Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘vampire’

h1

From The Bottom

Februari 17, 2009

Dear diary,

The Rise of The Lycans

Apakabar? Sorry for the long absence. Hari ini setelah berhari-hari kerja melulu, aku nonton “Underworld: The Rise of The Lycans”, kisahnya mengenai peperangan antara vampire dan lycan atau werewolf (oh no, not about vampire anymore!). Aku sebenarnya malas nonton film itu (kau tahu tentunya kenapa aku ngga suka). Tapi temenku yang satu ini sepertinya lagi butuh ditemenin banget jadi aku bersedia menemani asal dia yang traktir. Sepertinya dia bete banget sih karena setahuku Lina tidak terlalu suka tema “perang” seperti ini. Waktu kutanya, ternyata dia habis berantem sama pacarnya jadi mungkin bawaannya jadi pingin mukul orang terus. O_

Film itu sendiri merupakan flashback konflik yang terjadi ratusan tahun lalu, antara Victor (Bill Nighy), pemimpin para vampir dengan musuhnya Lucian (Michael Sheen), pemimpin para lycan. Konflik tersebut mencapai puncaknya pada film yang pertama (Underworld), dengan setting masa sekarang. Saat itu Selene (Kate Beckinsale), seorang vampir Death Dealer, bertemu dengan manusia bernama Michael (Scott Speedman) yang sedang menjadi incaran para Lycan. Michael ternyata memiliki darah khusus yang sanggup meleburkan darah vampir dan lycan menjadi sebuah ras baru. Michael kemudian dimodifikasi oleh Lucian yang sangat dendam dengan vampir. Michael inilah yang kemudian dalam film pertama mengalahkan Victor.

pembawa ras baru

Michael: manusia pembawa ras baru

Dalam prequel ini dikisahkan bagaimana pada saat itu kaum vampir menguasai lycan dan menjadikan para lycan sebagai budak mereka. Namun begitu, ada satu lycan yang diberi kepercayaan untuk membantu vampir memerangi bangsanya sendiri, yaitu Lucian. Lucian, yang walau dibatasi kekuatannya (dengan kalung segel di lehernya yang mencegahnya berubah menjadi lycan) memiliki keleluasaan untuk bekerja sebagai tukang besi untuk mensuplai senjata para vampir. Ia kemudian terlibat hubungan asmara dengan anak Victor yang bernama Sonja (Rhona Mitra). Cerita bergulir, Lucian berencana akan melarikan diri dan berhasil setelah dibantu Sonja. Hubungan mereka akhirnya diketahui oleh Victor dan berakhir tragis dengan eksekusi mati Sonja oleh ayahnya sendiri Victor, yang harus disaksikan oleh Lucian. Dendam ini yang dibawa oleh Lucian ratusan tahun kemudian saat ia bertemu lagi dengan Victor.

Michael & Selene

Michael with Selene

Sedih banget deh ceritanya. Settingnya juga “gelap”, serba malam dengan suasana Gothic yang sangat kental. Beda dengan “Twilight” yang lebih romantis dan modern. Para vampir di sini digambarkan selalu memakai jubah dan memiliki wajah dingin yang serba serius. Tak lupa selalu ada sentuhan wajah Eropa Timur atau Romania untuk lebih spesifiknya yang merupakan ciri khas karakteristik vampir. Aku sempat merasa menyesal nonton film ini tapi, entah mengapa aku tiba-tiba kangen seseorang…

(Song: “Cinta Terlarang” – Marvells)

h1

Penjelajah Malam

November 1, 2008

Dear diary,

“Kelihatannya kau tahu banyak soal Sasha ini. Siapa dia sebenarnya?” Aku memandang Ariel dengan sedih.

“Gue tadinya ngga mau percaya kalau dia itu berkata sejujurnya. Makanya gue minta tolong kau cari tahu siapa Sasha sebenarnya. Gue mau cerita tapi jangan marah atau ketawain gue ya?”

Ariel memandangku,

“Janji, asal kau jujur ya.” Aku memulai ceritaku,

“Ariel, Sasha adalah pemilik kalung yang sebenarnya. Yang terjadi sebenarnya adalah, kalung itu dicuri oleh nenek moyang Jansen dan dibawa sampai ke Hindia Belanda untuk disembunyikan…” Aku diam sebentar menunggu reaksi Ariel. Dia masih diam ingin mendengarkan ceritaku selanjutnya, aku melanjutkan ceritaku,

“Sasha telah mengubah dirinya sedemikian rupa sehingga bisa mengejar kalung itu lebih dari satu abad lamanya. Dia sudah mengubah dirinya menjadi seorang vampire supaya tak bisa mati.”

“Maksud kamu Sasha itu bukan manusia, gitu?”

“Iya.” Ariel tertawa.

“Mana ada vampire di dunia ini. Vampire itu cuma mitos, ngga pernah ada. Cuma orang yang suka mengkhayal saja yang percaya bahwa vampire itu ada.”
Aku menggelengkan kepalaku.

“Kau serius Jul? Come on…”

“Betul Riel. Gue ngga mengada-ada. Kau tahu kan gue ngga suka mitos-mitos kayak gitu. Apalagi mengkhayal. Gue lihat sendiri Sasha itu beda. Gue bisa tahu dari kulitnya yang terasa dingin, matanya yang bersinar kalau kena cahaya lampu waktu malam, semua kegiatannya dilakukan pada malam hari termasuk bekerja…”

“Yah, kalau itu sih bisa terjadi pada siapa aja. Siapa tahu dia lagi pake contact lens? Mungkin dia memang sedang sakit sehingga suhu badannya turun? Atau mungkin dia lebih comfortable melakukan aktivitasnya pada malam hari? Apa pun itu, pasti dijelaskan alasannya secara logis. Alasanmu kurang kuat Julie. Gue yakin yang namanya Sasha ini cuma mengada-ada.”

“Gue ngga yakin akan hal itu Riel…” Haruskah kuceritakan tentang kantong berisi darahku yang kutemukan di rumahnya?

“Gue rasa orang ini cuma mau cari sensasi aja, mengaku pemilik kalung, menjadi vampire untuk mendapatkannya. Kelihatannya dia cuma sedang cari perhatian kau saja.”

“Engga Riel. Terakhir kali gue ke rumahnya, gue menemukan ada sebuah kantong berisi darah gue tersimpan di dalam lemari esnya. Setelah gue tanya akhirnya Sasha mengakui bahwa ia diam-diam telah ambil darah gue untuk dia minum.” Raut wajah Ariel berubah.

“Kalau yang itu baru creepy. Kau yakin soal itu?” Aku menganggukkan kepalaku. Ariel bertanya lagi,

“Menurutku tindakannya yang itu sedikit kelewat batas. Kau yakin dia minum darah? Kalau benar dia adalah vampire, dia kan punya banyak peluang untuk menggigitmu kapan saja? Dan nyatanya, cuma satu kali kan dia ambil darahmu itu? Gue rasa darah itu cuma dipakai untuk penelitian lab atau semacam itu.”

“Tadinya gue berpikiran seperti itu. Tapi setelah dia memperlihatkan pecahan kalung itu, baru gue bisa teryakinkan. Walau begitu, gue ngga sepenuhnya percaya sampai hari ini. Sampai kau perlihatkan foto Sándor itu. Maaf ya Ariel, gue baru cerita ini semuanya ke kamu sekarang…“

“Iya. Itu yang jadi pertanyaan gue kenapa kau baru sekarang kau cerita ini sekarang?”
Aku memandang Ariel dengan sedih.

“Gue ngga mau kalau kau tahu ceritaku ini kau jadi marah, mengejar Sasha lalu menghajarnya. Gue ngga mau melihat kalian saling melukai…”

“Well, kalau ternyata lelaki itu bajingan, kenapa engga diberi pelajaran?”
Aku tertunduk sedih. Ariel sulit untuk memahami kekhawatiranku tampaknya.

“Ariel, kau ngga akan marah ke dia kan? Sejak gue tahu bahwa dia bermaksud mengambil kalung itu dari gue, gue ngga mau ketemu dia lagi… Gue sakit hati dan yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa dia bukan manusia lagi. Gue ngga lihat ada yang bisa dipertahankan dalam hubungan kita…” Ariel memandangku dengan tajam,

“Did he harm you?” Aku menggelengkan kepalaku.

“Yang penting kau nggak dilukai sama dia. Sekarang kalung itu di mana?”

“Masih ada sama gue. Sasha bilang, terserah gue kapan mau memberikannya kepada dia. Dia ngga mau maksa gue…”

“Hmm… aneh. Sudah jauh-jauh ke sini, ketika kalungnya sudah ketemu, eh nggak diambil juga… Dia punya banyak kesempatan tapi tak mau memanfaatkannya.” Ariel sempat terdiam agak lama. Ia kemudian memandangku dengan lembut,

“Julie, kenapa kau begitu khawatir? Kau sayang sama dia ya?” Aku menganggukkan kepalaku. Ariel mengusap kepalaku lembut,

“Gue rasa dia sebenarnya juga sayang sama kau. Bener ya?” Aku menganggukkan kepalaku. Ariel terdiam dan merangkul bahuku. Ariel tak bertanya lagi.

(song: “Aku Tak Bisa Sendiri” – BCL)