Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘opa herman’

h1

Dari Kumpulannya Terbuang

Oktober 17, 2008

Hi diary,

Malam ini sepupuku si ganteng Ariel datang ke tempatku. Setelah hampir sebulan mengutak atik silsilah keluarga kami, akhirnya Ariel menemukan titik terang tentang Alexander van Rijn. Cukup sulit menemukan sumbernya karena Alexander tak punya keturunan lagi dan keluarganya ada di Belanda semua. Satu-satunya data yang kami punya hanyalah daftar silsilah dan surat-surat yang kami dapat dari oma melalui opa Herman. Aku juga butuh banget data itu untuk mencek kebenaran yang dikatakan Sasha. Ariel datang agak sedikit “passionate”.

“Wow, akhirnya gue dapet semua data tentang si Alex itu. Gila, susah banget. Kamu tahu kan di Belanda itu nama “van Rijn” itu pasaran, sama seperti nama “Budiman” di sini. Kebayang kan susahnya gue cari data si Alex itu.” Ariel membuka laptopnya dan lalu menunjukkan sebuah file dengan semangat,

“Ini dia nama orang tua Alex. Nama ibunya, Rebekka Johanneke Manon, ayahnya bernama Jansen Ignaas van Rijn.” Ariel lalu membuka sebuah foto,

“Ini foto mereka. Jansen, Rebekka, dan Alex kecil.”

Tampak di situ foto mereka bertiga. Alexander ada di tengah ayah dan ibunya, kira-kira masih berumur tujuh tahun.

“Kayaknya, Alex anak tunggal. Gue cek ulang soal keluarganya, nggak ada nama lain pada keturunan van Rijn kecuali Alexander.” Ariel lalu bertanya,

“Jul, coba kau amati foto itu. Kira-kira kau bisa tebak kalung itu berasal dari siapa?” Aku mengamati foto itu sekali lagi dengan lebih teliti lalu aku menunjuk tangan Jansen yang sebelah kiri,

“Ada yang familiar dan sedikit aneh pada tangan kirinya. Lihat nih, rantai yang melilit tangan kirinya itu familiar buat gue. Mungkin itu rantai kalung itu. Terus, secara fashion, rantai itu agak ‘misplace’ karena setahu gue zaman itu belum ada tren pake gelang buat cowo. Tapi di sini ada gelang yang secara sengaja dipakai di luar lengan baju. Agak aneh sih. Coba zoom in bagian ini.” Aku menunjuk bagian pergelangan tangan kiri Jansen.

“Ariel, kau lihat ini. Rantai ini memang sama persis dengan kalungnya oma! Ini pasti kalung itu!” Aku menggumam,

“Berani sekali dia memperlihatkan benda seperti itu di foto… Apa dia ngga takut ada yang bisa mengenali kalung itu?”

Ariel bingung mendengarku berkata seperti itu. Ia melihatku dengan pandangan bertanya-tanya.

“Gue tak melihat adanya hubungan antara memakai gelang dengan keberanian untuk memperlihatkannya.”

“Oh… Ehm…”

Aduh, hampir saja aku keceplosan soal kalung. Ariel belum aku beri tahu soal pertemuanku yang terakhir dengan Sasha, dimana Sasha menjelaskan bahwa kalung itu ternyata barang curian.

Ariel melanjutkan penjelasannya. Ia menceritakan panjang lebar tentang asal usul Jansen. Ariel sampai pada kesimpulan bahwa Jansen bukan orang Belanda asli. Ada kemungkinan ia berasal dari Eropa Timur. Ia mengambil kesimpulan seperti itu berdasarkan kegiatan keluarga Jansen yang selama hidupnya banyak memiliki relasi dengan orang atau perusahaan Eropa Timur.

Aku terdiam mendengar penjelasan Ariel. Ternyata ada petunjuk yang mengarah ke situ.

“Ariel, kau tahu kenapa mereka pindah ke Belanda?”

“Gue belum tahu… Bisa jadi karena ada wabah, perang, bencana alam, gue harus selidiki dulu.”

“Bisa minta tolong?”

“Apa itu?”

“Ada info tambahan yang gue dapet yang mungkin bisa jadi titik terang soal kalung itu. Sejauh ini pencarian gue sampai ke sebuah keluarga yang berdomisili di Hongaria.”

“Hmm…” Ariel mengerenyitkan keningnya. Katanya,

“Gue belum sampai bisa menunjuk khusus ke sebuah negara… Soal hubungan Jansen dengan Eropa Timur pun masih asumtif…Apa dasarmu bisa sampai pada kesimpulan seperti itu?” Nah, ini dia pertanyaan sulit yang pasti keluar dari mulut Ariel, pertanyaan yang susah kujawab.

“Susah buat gue jelasin semuanya sekarang. Seandainya data yang gue mau cek itu matching dengan asumsimu, mungkin kau bisa melihat kaitannya.”

“Begitu ya?”

“Gini deh, kau kan tetap mau selidiki lebih lanjut soal Jansen itu. Di satu sisi lain, kau cek juga data yang gue mau kasih itu. Dua data ini akan jalan paralel. Ngga apa-apa kan kalau begitu? Atau kau keberatan?”

“Bisa juga kalau seperti itu. Mana nama yang mau kau cek?”

“Ini. Gue mau nama-nama ini dan persyaratannya.” Whew… untung Ariel ngga nanya lebih detail lagi. Aku menulis beberapa nama pada secarik kertas dan menuliskan juga persyaratan yang harus dipenuhi supaya data tentang orang yang kucari bisa tersaring.

“Gue ingin kau cari tahu tentang orang yang bernama Sándor Miska Szôllösi. Lahir tanggal 7 April 1898 di Tiszafüred, Hongaria. Ayahnya bernama Radu Szôllösi, ibunya bernama Maria Kôvári.”

“Datamu cukup lengkap ya…” Ariel berkata dengan nada ingin tahu.

“Oh ya, tolong cek satu nama lagi, Sasha Adorján Knezevic. Dia lahir tanggal 7 April 1987 juga di Tiszafüred, Hongaria. Gue ingin kau dapat semua data tentang orang-orang ini. Selain itu cek juga semua nama Sasha yang lahir tahun 1987.”

“Ini Sasha temenmu yang bule itu kan?” Aku menganggukkan kepalaku.

“Iya Sasha temen gue.”

“Apa hubungan dia dengan Sándor itu?” Aku mengangkat bahuku.

“Gue juga ingin tahu itu. Apakah dia ada kaitannya dengan kalung atau tidak.”

“Oke. Gue coba cari ya…” Ariel memandang kepadaku lalu bertanya,

“Kau kenapa Julie? Are you ok?”

“Kenapa memangnya?”

“Kau kelihatan agak lesu hari ini.”

“Ngga ada apa-apa kok. Mungkin gue agak capek aja.”

Ariel melihat ke arahku dengan pandangan tak percaya. Namun ia tak bertanya lagi.

(song: “Jangan Pernah Berubah” – ST 12)

h1

Kisah Di Balik Kalung (2)

September 13, 2008

Hi diary,

Lanjut tulisannya ya. Pertemuan kami dengan opa Herman cukup unik. Awalnya kami banyak bincang-bincang mengupdate berita tentang keluarga kami. Di tengah percakapan tiba-tiba opa Herman seperti ingat sesuatu. Ia berhenti berbicara dan tiba-tiba bangkit dari duduknya. Opa Herman lalu bergegas pergi ke kamarnya. Tindakan opa Herman membuat aku dan Ariel cukup bingung.

Opa Herman menghilang ke kamarnya cukup lama. Ia lalu keluar dengan membawa sebuah album foto tua berwarna cokelat tua dan sebuah amplop putih. Opa Herman memberikan album foto dan amplop itu dan berkata bahwa amplop itu adalah titipan dari oma untukku. Aku membuka album foto itu perlahan. Album itu berisi foto-foto oma. Dari mulai ia muda hingga masa tuanya. Bahkan ada foto beliau bersamaku saat kami masih di Bandung. Aku hampir menitikkan air mata melihat foto-foto itu. Tak tahan lagi, kututup album itu segera.

Aku kemudian membuka amplop putih yang dilem rapat. Amplop itu berisi sebuah folder karton model jadul (semacam portfolio folder). Kubuka folder tersebut, isinya beberapa dokumen tua. Dokumen pertama berisi blue print silsilah keluarga kami. Dokumen kedua adalah surat yang kelihatannya sudah sangat tua karena kertasnya sudah menguning dan masih menggunakan bahasa Belanda. Dokumen ketiga adalah sebuah sertifikat tak setua dokumen sebelumnya karena telah menggunakan ejaan Indonesia Lama. Yang terakhir adalah sebuah amplop yang sudah menguning berukuran sedang. Aku membukan amplop itu. Isi amplop itu adalah setumpuk surat tebal, kira-kira ada dua puluh lembar. Aku memutuskan untuk membaca isi surat itu di rumah, supaya tidak menyita waktu terlalu banyak.

Aku menengadahkan kepalaku setelah asik melihat isi amplop tersebut. Opa Herman yang duduk di depanku tampak sedih. Aku tak berani memandang beliau lebih lama. Ia masih kehilangan oma. Nafasku terasa berat. Terbayang olehku wajah oma yang selalu tersenyum. Rasanya, ia seperti masih ada di Bandung sana. Rasanya masih seperti mimpi, tak percaya kalau oma sudah tiada.

Pulang dari tempat opa Herman, aku tak bicara apa-apa. Ariel juga diam saja. Kami berdua sama-sama diam. Sesampainya di tempatku, saat Ariel hendak pergi, aku menahan tangannya,

“Ariel,” Aku menatapnya dan berkata lagi,

“Maafkan aku marah padamu waktu itu…” Ariel tersenyum lembut,

“It’s okay.” Ia mengusap bahuku.

“Aku kangen sama oma Ariel…”

Tak tahan lagi, aku memeluk Ariel dan menangis di bahunya. Mengapa ia harus pergi mendadak? Mengapa aku ditinggal sendirian seperti ini?

(song: “Perih” – Andra & The Backbone)