Dear Diary,
Hujan baru saja reda. Aroma lembabnya tanah merebak menusuk hidung. Titik-titik air masih lekat erat pada kaca jendela. Sebagian meluncur perlahan mengikuti gravitasi. Sementara angin sejuk yang bertiup terasa menerpa wajahku dengan lembut. Tahun telah berganti sejak pertemuan dengannya. Pertemuan kami yang terakhir. Sang waktu terus berjalan perlahan. Pasti dan tak acuh dengan nasib manusia yang dilaluinya. Aku di sini terhenti bersama kenangan yang seakan enggan menghilang dari benakku.
Ini postingku yang pertama di tahun 2009. Satu bulan terakhir aku sibuk berlibur. Liburanku terasa menyenangkan. Terasa menyenangkan sampai aku tiba di rumah lagi. Saat itu, ketika aku baru pulang, ketika malam mulai merayap di muka bumi, kubuka pintu rumah, kutemukan sebuah kekosongan. Kekosongan sangat yang meliputi hatiku. Mencekam, seakan ada yang hilang di sana. Jujur, ku tak bisa melupakanmu. Kemanapun aku pergi, bayangan dirimu selalu muncul bagai matahari yang selalu terbit di ufuk Timur. Memang, kadang kau hilang sesaat dari ingatanku. Namun ingatan akan dirimu selalu muncul bagai bayangan diri yang tak mau beranjak dari kaki.
Ada saat dimana aku sempat bertanya dalam hatiku, dimana kau berada saat cuaca sedang panas terik. Aku berpikir, apakah kau aman-aman saja saat itu. Atau jika hujan turun dengan derasnya pada siang hari, akankah kau sanggup keluar rumah untuk jalan-jalan sebentar, menikmati siang yang tanpa sinar matahari itu? Ingin sekali aku tahu kabarmu pada saat-saat seperti itu…
Susah sekali bagiku untuk melupakanmu. Masih kebayang wajahmu yang kadang tak sengaja pasang ekspresi sombong dengan agak belagu sedikit (walau aku tahu, kalau sudah seperti itu, dalam hatimu kau sedang ingin sekali diperhatikan). Atau aku suka tersenyum sendiri kalau ingat ekspresi bodohmu saat keluar jahilmu. Cengiran jelekmu yang menampilkan gigimu yang kecil-kecil agak jarang seperti gigi kucing. Herannya, kalau kupikir sekarang, bagaimana kau bisa menyembunyikan taringmu itu? Sayang aku belum sempat menanyakan hal ini kepadamu. Sebenarnya, banyak hal yang ingin kutanyakan kepadamu. Tetapi kupikir semua tak ada gunanya lagi, aku malas bikin jadwal untuk bertemu denganmu lagi.
Masih sering aku berpikir, adakah kesempatan bagi kita untuk bersatu? Mungkinkah hubungan cinta antara manusia dengan vampir bisa terjadi? Kalau menurut versi film “Twilight“, manusia dan vampir bisa hidup berdampingan. Manusia dan vampir bisa saling mencintai, seperti Edward dan Bella. Well, happy ending hanya berlaku di Hollywood. Kenyataannya, tak mungkin itu bisa terjadi. Bagiku kau hanyalah tubuh yang telah mati yang tak bernyawa lagi. Adakah makhluk tak bernyawa sepertimu masih punya hati? Mungkin ada mungkin tidak. Ataukah hatimu hanya diisi oleh dendammu terhadap Ilya? Hanya kau yang tahu. Kau bukanlah manusia lagi.
Bagiku, kau adalah tubuh yang telah mati, yang selalu membutuhkan darah manusia untuk bisa bertahan hidup. Dengan apapun caranya. Seperti apapun juga. Bagimu, manusia seperti aku ini adalah mangsamu, penyambung kehidupan. Jika demikian adanya, dapatkah harimau hidup berdampingan dengan rusa mangsanya? Jika kau berada di dekatku, sanggupkah kau menahan rasa laparmu untuk tidak mengambil darahku? Aku ragukan itu. Seperti satu kali pernah kau lakukan itu kepadaku secara diam-diam.
My dear diary, begitulah perjalananku di tahun 2008. Tahun ini akan menjadi tahun yang berat bagiku. Terasa berat karena aku kehilangan dua orang yang amat kusayangi. Aku berharap tak ada lagi kehilangan di masa depan. Suatu harapan yang sulit memang. Walaupun begitu, apapun yang terjadi di tahun baru ini, aku berharap diberi kekuatan untuk menempuh tahun yang makin sulit ini. Semoga.
(Song: “Selamat Tinggal Kekasihku” – J-Rock)

