Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘oma’

h1

Kosong

Januari 26, 2009

Dear Diary,

Hujan baru saja reda. Aroma lembabnya tanah merebak menusuk hidung. Titik-titik air masih lekat erat pada kaca jendela. Sebagian meluncur perlahan mengikuti gravitasi. Sementara angin sejuk yang bertiup terasa menerpa wajahku dengan lembut. Tahun telah berganti sejak pertemuan dengannya. Pertemuan kami yang terakhir. Sang waktu terus berjalan perlahan. Pasti dan tak acuh dengan nasib manusia yang dilaluinya. Aku di sini terhenti bersama kenangan yang seakan enggan menghilang dari benakku.

Ini postingku yang pertama di tahun 2009. Satu bulan terakhir aku sibuk berlibur. Liburanku terasa menyenangkan. Terasa menyenangkan sampai aku tiba di rumah lagi. Saat itu, ketika aku baru pulang, ketika malam mulai merayap di muka bumi, kubuka pintu rumah, kutemukan sebuah kekosongan. Kekosongan sangat yang meliputi hatiku. Mencekam, seakan ada yang hilang di sana. Jujur, ku tak bisa melupakanmu. Kemanapun aku pergi, bayangan dirimu selalu muncul bagai matahari yang selalu terbit di ufuk Timur. Memang, kadang kau hilang sesaat dari ingatanku. Namun ingatan akan dirimu selalu muncul bagai bayangan diri yang tak mau beranjak dari kaki.

Ada saat dimana aku sempat bertanya dalam hatiku, dimana kau berada saat cuaca sedang panas terik. Aku berpikir, apakah kau aman-aman saja saat itu. Atau jika hujan turun dengan derasnya pada siang hari, akankah kau sanggup keluar rumah untuk jalan-jalan sebentar, menikmati siang yang tanpa sinar matahari itu? Ingin sekali aku tahu kabarmu pada saat-saat seperti itu…

Susah sekali bagiku untuk melupakanmu. Masih kebayang wajahmu yang kadang tak sengaja pasang ekspresi sombong dengan agak belagu sedikit (walau aku tahu, kalau sudah seperti itu, dalam hatimu kau sedang ingin sekali diperhatikan). Atau aku suka tersenyum sendiri kalau ingat ekspresi bodohmu saat keluar jahilmu. Cengiran jelekmu yang menampilkan gigimu yang kecil-kecil agak jarang seperti gigi kucing. Herannya, kalau kupikir sekarang, bagaimana kau bisa menyembunyikan taringmu itu? Sayang aku belum sempat menanyakan hal ini kepadamu. Sebenarnya, banyak hal yang ingin kutanyakan kepadamu. Tetapi kupikir semua tak ada gunanya lagi, aku malas bikin jadwal untuk bertemu denganmu lagi.

Masih sering aku berpikir, adakah kesempatan bagi kita untuk bersatu? Mungkinkah hubungan cinta antara manusia dengan vampir bisa terjadi? Kalau menurut versi film “Twilight“, manusia dan vampir bisa hidup berdampingan. Manusia dan vampir bisa saling mencintai, seperti Edward dan Bella. Well, happy ending hanya berlaku di Hollywood. Kenyataannya, tak mungkin itu bisa terjadi. Bagiku kau hanyalah tubuh yang telah mati yang tak bernyawa lagi. Adakah makhluk tak bernyawa sepertimu masih punya hati? Mungkin ada mungkin tidak. Ataukah hatimu hanya diisi oleh dendammu terhadap Ilya? Hanya kau yang tahu. Kau bukanlah manusia lagi.

Bagiku, kau adalah tubuh yang telah mati, yang selalu membutuhkan darah manusia untuk bisa bertahan hidup. Dengan apapun caranya. Seperti apapun juga. Bagimu, manusia seperti aku ini adalah mangsamu, penyambung kehidupan. Jika demikian adanya, dapatkah harimau hidup berdampingan dengan rusa mangsanya? Jika kau berada di dekatku, sanggupkah kau menahan rasa laparmu untuk tidak mengambil darahku? Aku ragukan itu. Seperti satu kali pernah kau lakukan itu kepadaku secara diam-diam.

My dear diary, begitulah perjalananku di tahun 2008. Tahun ini akan menjadi tahun yang berat bagiku. Terasa berat karena aku kehilangan dua orang yang amat kusayangi. Aku berharap tak ada lagi kehilangan di masa depan. Suatu harapan yang sulit memang. Walaupun begitu, apapun yang terjadi di tahun baru ini, aku berharap diberi kekuatan untuk menempuh tahun yang makin sulit ini. Semoga.

(Song: “Selamat Tinggal Kekasihku” – J-Rock)

h1

The Truth Always Hurts

Oktober 24, 2008

Dear diary,

Satu minggu berlalu setelah Ariel datang membawa data-data tentang Alexander van Rijn. Aku bersyukur banget punya kakak sepupu yang handy seperti Ariel. Dia sejak dulu selalu mau membantuku walau kadang aku sering seenaknya saja kepadanya. Dulu waktu kecil, kalau aku sudah nakal, Ariel biasanya memandangku dengan pandangan yang super serius, dan aku tiba-tiba jadi berlaku manis kepadanya. Kalau kelakuanku sudah keterlaluan, biasanya dia ngga segan-segan untuk jitak kepalaku. Habis jitak kepalaku, dia gantian tertawa sementara aku cemberut karena selain sakit, aku ngga rela dimarahi seperti itu. Kejadian itu masih berlangsung sampai aku sekolah di SMU. Hanya saja frekuensinya tidak sesering ketika kami kecil.

Saat ini, sekalipun kami sudah dewasa, baginya aku masih adik kecilnya yang kadang nakal dan harus “diawasi”. Setelah amanat oma diberikan kepadaku, Ariel tampaknya lebih ekstra memperhatikanku. Ia tidak pernah memperlihatkan perhatiannya secara langsung, namun aku tahu dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya. Aku tak merasa diawasi karena aku memang merasa dekat dengannya sejak dulu.

Ariel usianya lima tahun di atasku. Akhir tahun ini ia akan berusia tiga puluh tahun. Dia punya hobi hiking, rafting, menyelam, naik sepeda, tenis. Pada dasarnya dia suka olah raga karena keluarganya membiasakan diri berolah raga secara rutin. Selain berolah raga, Ariel juga senang menekuni olah raga bela diri. Dia pernah mempelajari Aikido, Yudo dan terakhir dia sedang mempelajari Capoiera.

Perawakan Ariel tegap dan cukup macho. Tinggi badannya hampir mencapai seratus delapan puluh sentimeter, termasuk tinggi kalau dibandingkan dengan sepupu kami yang lain. Kulitnya sedikit agak gelap, rambutnya tebal berombak, kadang bikin iri saudara-saudaranya yang lain karena bagus dan mengkilap (namun tak berminyak atau berketombe). Wajahnya kata orang mirip mantan drummer Dewa, Tyo Nugros. Ariel jarang bicara. Kadang agak jaim sedikit (menurutku). Tapi kalau ada yang berhasil memancing dia untuk berbicara, ngomongnya bisa berjam-jam nggak berhenti.

Sampai saat ini aku belum berani cerita tentang Sasha kepada Ariel. Aku ingin mencek kebenaran cerita Sasha sekali lagi. Aku ingin memastikan bahwa Sasha tidak mengada-ada karena ceritanya sangat fantastis. Kuakui, ada sedikit pengharapan di dalam hatiku yang ingin menemukan bahwa cerita Sasha itu bohong semata.

Malam ini aku menginap di rumah Ariel. Ibunya, tante Mirna, berkata kalau memang urusanku ini cukup penting aku boleh menginap di rumahnya. Ariel punya seorang adik perempuan bernama Flora dan adik laki-laki bernama Ian. Malam ini karena urusanku belum beres, aku akan menginap bersama Flora. Walau sebenarnya statusku membantu penyelidikan Ariel, pada akhirnya aku juga membantu membereskan kamarnya yang sudah seperti kapal pecah. Waktu aku protes melihat kamarnya, Ariel cuma berkata bahwa kamarnya jadi berantakan gara-gara ngurusin dataku. Huh dasar ngeles!

Sekarang aku lagi bengong di meja Ariel. Ariel sendiri sedang keluar, katanya mau cari makanan dulu. Kayaknya dia lagi ngidam bubur ayam Sukabumi, jadi cari makannya sampai dibelain ke Tebet… Hari sudah cukup larut, waktu hampir menunjukkan pukul dua belas malam. Kelihatannya keluarganya yang lain sudah tidur semua. Tinggal kami di sini yang masih berkutat dengan kertas-kertas. Kupikir aku posting ini sebentar saja sambil nunggu Ariel pulang.

Aku sebenarnya mengantuk tapi ngga bisa tidur. Pikiranku melayang kepada Sasha. Aku masih ingat kejadian waktu Sasha mengeluarkan sebuah kalung dari dalam kemejanya. Kalung itu memiliki sebuah medalion yang merupakan sebuah wadah bertutup. Sasha membuka tutup wadah itu; di dalamnya ada sebuah benda berbentuk seperti pecahan logam. Aku segera mengenali pecahan itu, gambar pada keramik dan bentuk ukiran logam tersebut sama dengan kalung pemberian oma. Hanya saja, yang kulihat sekarang adalah bagian bawahnya. Bagian bawah yang selama ini patah dan hilang.

Aku memandang pecahan kalung tanpa berkedip. Aku benar-benar tak tahu harus berkata apa. Jadi selama ini kami telah menyimpan barang curian! Aku duduk dengan lesu. Seluruh tubuhku lemas rasanya. Tiba-tiba aku teringat akan oma,

“Did you kill my grandma?”

Sasha menggelengkan kepalanya,

“No I didn’t. I waited for her to hand over the necklace. I know she would handed it to you in a short time.”

“How did you know that?”

“Truly, I had been followed you guys till Bandung for a couple of times. I saw her and knew that her time would be over soon. In a way, I can sense human’s nerves and blood. From her condition at that time, I could predict what would happened to her within a month at least. Most of the time, my prediction is 90% accurate.”

“How come you didn’t telling me that she would pass away soon? How could you Sasha?”

Sasha melihatku dengan sedih,

“I wish I could tell you Julie. If I told you what I saw, would you believe me? We’ve just met. You wouldn’t believe me and think that I’m crazy.”

Aku terdiam mendengar penjelasan Sasha. Sasha melanjutkan perkataannya,

“I wish I could say something to you at that time. But how? I’d prefer not to interfer with your life. I’ve no choice but let things happened naturally.”

Ariel sudah balik lagi tuh… Aku makan dulu ya… (habis itu kerja lagi).

(song: “Sepi” – Signy)