Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘nasi goreng’

h1

Kencan Kuliner

September 9, 2008

Rumah Dia

Dear diary,

Aku baru pulang nih dari dokter. Sebenarnya minuman herbal yang diberikan Sasha kemarin sangat membantuku sehingga aku merasa agak baikan. Namun kupikir aku masih perlu mencek kondisiku untuk memastikan kesehatanku. Tadi pagi aku periksa ke dokter. Kata dokter, aku mengidap anemia. Kata dokter, jumlah darahku di bawah standar yang normal. Anemia? Kok aneh bisa tiba-tiba anemia gini? Seumur hidupku aku nggak pernah sakit itu dan aku selalu makan makanan sehat, dan aku jarang sekali makan junk food. Tadi dokternya juga nanya soal makanku, aku bilang kalau aku sangat jaga makanku. Dia kelihatannya cukup bingung. Well, tadi aku dikasih vitamin untuk penambah darah. Sekarang aku sudah merasa agak sehat.

Oh ya, aku belum cerita ya aku ngapain weekend ini? Hari Sabtu yang lalu aku akhirnya ke tempat Sasha! ^_^ Akhirnya aku tahu juga tempat tinggal Sasha! Ceritanya cukup panjang juga. Sabtu sore Sasha datang menjemputku di apartemen. Dari tempatku kami berjalan melalui jalan raya Fatmawati dan belok ke arah lembah yang terkenal curam di jalan Lebak Bulus. Sasha ternyata tinggal di daerah Lebak Bulus. Sebelum melewati lembah tersebut kami belok ke sebuah jalan kecil yang masih terbuat dari tanah yang dilapisi batu-batu kerikil. Di sebelah kiri dan kanan jalan hanya ada kebun dan pohon-pohon tinggi. Tak ada satu bangunan pun di sekitar jalan itu. Aneh juga, di antara peradaban betonan Jakarta masih ada kebun seluas ini.

Kira-kira sepuluh meter dari ujung jalan kami sampai pada sebuah pintu gerbang yang tingginya kira-kira dua meter. Pintu tersebut berbentuk segi empat, terbuat dari kayu yang tebalnya sekitar dua centimeter. Gaya pemasangan pintu gerbang tersebut mirip pintu gerbang rumah-rumah Jepang. Hanya yang ini kayunya dipasang vertikal, tidak horisontal. Sasha turun dari mobil dan mendorong pintu gerbang tersebut ke dalam. Pintu itu tampaknya sangat berat, namun Sasha terlihat santai saja mendorongnya.

Kami lalu masuk ke dalam halaman rumah. Wah, ternyata halaman rumah Sasha memang luas, seperti yang ia bilang. Halaman rumahnya banyak sekali ditumbuhi pepohonan sehingga suasana senja yang seharusnya masih terang jadi agak gelap karena ternaungi bayangan pohon yang rimbun. Jalan menuju rumahnya kali ini terdiri dari paving block berwarna tanah. Kiri kanan jalan tersebut ada trotoar kecil yang dihiasi banyak sekali bunga terompet warna putih. Setelah berjalan sepuluh meter lagi, kami pun sampai di depan sebuah rumah bertingkat dua yang mungil.

Rumah Sasha tak terlalu besar, sebuah rumah bercat putih tingkat dua dengan gaya arsitektur lama. Dari gaya bangunannya, tampaknya dibangun pada sekitar tahun 60an. Ketika berjalan menuju teras rumahnya kulihat di sebelah kiri rumah ada sebuah kandang ayam (hah? Untuk apa Sasha memelihara ayam??).

Sasha membuka kunci pintu depan dan mempersilakan aku masuk. Tampaknya ia tinggal sendirian di rumah itu karena ia sendiri yang membuka pintu gerbang dan pintu rumahnya. Sesampainya di dalam rumah, Sasha mengisyaratkan aku untuk masuk ke dalam dapur. Di dapur sudah tersedia peralatan masak dan bahan makanan dengan lengkap. Sasha berkata kepadaku,

“I have bought all ingredients you asked. Look.” Sasha menunjuk ke bahan-bahan makanan yang ada di meja dapur,

“Red Chilli, red onion, garlic, pepper, soy sauce, oyster sauce, ketchup, chilli sauce, red meat, sausages.”

“Good. Let’s start.”

Sasha beberapa hari yang lalu minta aku untuk mengajari dia cara membuat nasi goreng. Katanya pertama kali ia makan masakan Indo adalah nasi goreng. Dia senang dengan rasanya karena pedas seperti masakan Hongaria.

“Sasha, where’s the rice? We have to cook it first.”

“Here we are.” Ia mengambil beras satu liter dan menuangnya ke dalam sebuah baskom untuk mencuci beras.

“You have to clean the rice first. Clean it until it produce clear water.” Sasha lalu mulai mencuci beras. Setelah selesai Sasha mengambil rice cooker,

“I have to cook it, right?”

“No need. Just watch it. It will be cooked by itself.”

“Really?” Sasha bengong mendengar perkataanku. Aku tertawa melihat ekspresinya. Dia baru sadar kalau aku becanda.

“I thought a cook like you is smart. But you seems not. I didn’t thought you buy my joke.” Aku menggodanya.

“You!” Sasha kelihatan gemes melihatku. Ia mengacungkan sendok nasi ke arahku.

“I’ll remember that Julie.” Aku tertawa melihat Sasha tertipu seperti itu. Beras mulai dimasak. Sementara beras dimasak, aku minta Sasha menyiapkan bahan-bahan yang lain. Ia mulai memotong bawang merah, bawang putih dan cabe menjadi potongan kecil. Ia memotong bahan-bahan tersebut dengan cepat. Lalu ia melanjutkan dengan memotong daging sapi dan sosis.

Selesai menyiapkan bahan, aku mengintip sebentar ke dalam rice cooker. Sasha berkomentar,

“This could be nice. This is like to have Risotto.”

“This one is different, if you make Risotto, you mix the ingredients along with the rice while it’s been cooked. Here, you cook the rice first, then after the rice is cooked, you mix it with the ingredients.”

“I see.” Sasha kemudian membuka lemari es.

“Do want to drink something Julie? I have coke, fruit juice, beer.”

“I just want a glass of water.”

“You really don’t want any of these?”

“No, thanks.”

Sambil menunggu nasi masak, kami ngobrol di dapur. Sasha bilang, dia mendapatkan rumah ini dengan harga murah melalui temannya yang bekerja di Resto. Semula ia tinggal di hotel di sekitar Thamrin selama beberapa hari. Kemudian setelah bekerja ia berhasil mendapatkan rumah ini setelah mencari ke sana kemari. Ia senang dengan rumah ini karena penuh dengan pepohonan yang membuatnya menjadi teduh. Tak lama kemudian nasi masak dan aku minta Sasha tidak langsung memasak nasi tersebut melainkan menunggunya agak dingin baru dimasak.

Sedang ngobrol, tiba-tiba ponselku berbunyi. Ternyata Ariel menelponku. Dia tanya aku ada dimana karena ia bermaksud datang ke tempatku. Aku berkata kalau aku ada di tempat Sasha. Ariel lalu berkata aku untuk berhati-hati. Aku mengiyakan. Selesai menelpon Sasha tampaknya ingin tahu namun tak bertanya apa-apa.

Babak berikutnya, Sasha mulai memasak nasi goreng dengan bumbu yang sudah disiapkan. Sasha sangat ahli dalam memasak nasi tersebut. Ia sendiri sangat semangat membuat nasi goreng tersebut. Udara panas kompor membuatnya sampai berkeringat. Selesai masak nasi goreng, aku mengambil pisau hendak memotong mentimun dan tomat sebagai hiasan. Sasha tiba-tiba mengambil pisau yang ada di tanganku, katanya,

“It’s not good for a girl using a knife like this in the evening.” Tatapannya sangat serius.

Nyengir

Nyengir

“Why?”

“You can get cut easily with this kind of knife. It’s not an ordinary knife you know. It’s made of special metal.” Aku melihat pisau itu dengan bingung. Perasaan pisau itu adalah pisau biasa yang banyak dijual di toko? Tiba-tiba aku ingat sesuatu,

“Oh, you want to tease me right? I know you just made it up.” Aku tertawa penuh kemenangan. Sasha tampak kesal.

“Damn, how come you know it?”

“The score is two now.” Aku tertawa geli. Sasha langsung memotong mentimun dan tomat tanpa banyak omong.

“Let me do it anyway.”

“Poor you Sasha…” Aku masih senang dengan kemenanganku.

Sasha diam saja dan menunjukkan hasil potongannya, wah dia membuat bunga mawar dari tomat dengan timun sebagai daunnya…

“At least I’m good at this.” Dia nyengir gembira melihat hasil karyanya.

Kami kemudian makan nasi goreng dan Sasha membuka sebotol red wine untuk teman makan kami. Agak aneh kombinasinya, nasi goreng dengan anggur. Perpaduan timur dan barat… Hari sudah malam ketika kami selesai makan. Saat itu aku merasa sangat mengantuk. Sasha menawarkan aku untuk menginap malam itu. Malam itu aku menginap di rumah Sasha. Aku terbangun esok harinya saat hari hampir senja. Entah kenapa kepalaku terasa sangat pusing. Sasha mengantar aku pulang malam itu. Sesudah itu aku jatuh sakit sampai hari ini.

(song: “Dua Hati Menjadi Satu” – Dafi ft Gita Gutawa)