Dear Diary,
Malam ini aneh sekali. Pulang kantor, aku setelah bersih-bersih aku langsung tidur. Hujan turun cukup deras seharian. Kalau sudah hujan seperti ini, aku jadi senang karena angin menjadi dingin dan udara menjadi lebih bersih karena debu menjadi berkurang. Biasanya aku sengaja membuka pintu balkon lebar-lebar supaya angin bisa lalu dengan leluasa. Malam ini, aku sengaja tidur di ruang duduk supaya bisa merasakan angin dingin yang lewat.
Setengah tertidur di sofa, aku menikmati hembusan angin hujan yang dingin menyejukkan sambil sebentar-sebentar hidungku mencium aroma tanah yang basah kena air. Di ujung kesadaranku, kulihat tirai balkon melambai dengan kencangnya. Tampaknya kali ini angin bertiup lebih kencang dari biasa hingga tirai tersebut sanggup menggapai ujung meja dekatku. Tak mengapa, pikirku. Aku sudah siap tidur malam itu. Tiba-tiba kulihat sesosok bayangan di ujung mataku. Sosoknya seperti manusia. Sosok seorang lelaki yang kukenal. Matanya berpendar memancarkan cahaya yang lamat-lamat. Aku bangun dari tidurku.
“Sasha?” Aku berdiri dan berjalan menuju balkon.
Tiba-tiba angin bertiup dengan kencang. Tirai menutup wajahku. Pemandangan di depan mataku terhalang. Aku menggapai tirai, berusaha menyibaknya. Aku mencoba melangkah ke teras. Jantungku berdegup kencang. Kulongokkan kepalaku keluar. Balkon kosong. Tak ada siapa-siapa di situ.
Tiba-tiba aku terjaga. Jantungku masih berdebar-debar. Aku menoleh ke pintu balkon. Tak ada siapa-siapa di situ. Bermimpikah aku? Tirai melambai dengan kencangnya. Malam ini angin bertiup lebih kencang dari biasanya.
(Song: “Kesempatan Kedua” – Drive)

