
Kuburan Tua
Dear book,
Aku hari ini nakal nih. Kemarin malam Sasha sms aku. Dia ajak aku jalan malam itu. Kupikir, kenapa ngga siang aja? Selain lebih banyak yang bisa dilihat, waktunya juga lebih lama. Walau berarti aku harus bolos kerja. Aku lalu kemukakan usulku itu. Sasha lalu telpon dan bilang kalau dia keberatan. Setelah kurayu, akhirnya dia mau juga walau nadanya kelihatan ragu.
My book, tahu nggak aku hari ini pergi kemana? Kami siang ini pergi ke Kebun Raya Bogor! Sasha bilang akan jemput aku jam 8 pagi dan benar, tepat jam 8 dia muncul di tempatku (aku suka dengan kebiasaannya yang selalu ontime). Kami pun segera melesat ke jalan tol Jagorawi menuju ke arah Bogor.
Pagi itu udara sangat cerah. Matahari yang bersinar dengan terik tak membuatku kepanasan, mungkin karena ada makhluk yang menyejukkan di sebelahku ^_^. Sasha sendiri kelihatannya cukup nyaman dengan kaca mata hitamnya (hanya saja, dia kok pake baju lengan panjang ya? Apa ngga panas tuh?). Anyway, jalanan tidak terlalu macet. Mungkin karena awal bulan puasa, jadi banyak yang libur. Kami tiba di Bogor jam 9 pagi.
Kami masuk ke Kebun Raya melalui pintu sebelah Selatan. Angin Gunung Salak berhembus dengan sejuknya, bertiup di antara ranting pohon yang menjulang tinggi lebih dari dua puluh meter. Aroma udara pagi menggelitik hidungku. Harum tanah dan daun-daunan pagi semerbak menghiasi pagi. Kicau burung dari atas pohon terdengar seperti nyanyian pagi yang mengiring perjalanan kami. Selapis kabut nampak terbentang tipis di depan. Kami berjalan perlahan menembus kabut yang mulai berpendar. Di depan, sinar matahari pagi menembus sela daun-daunan membentuk garis-garis cahaya, menambah indahnya pemandangan pagi itu. Wow, pemandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Kami berkeliling Kebun Raya sambil ngobrol banyak hal hingga tiba di suatu tempat yang aku belum pernah datangi sebelumnya, sebuah kompleks makam peninggalan Belanda. Kuburan itu letaknya agak jauh ke pinggir kompleks Kebun. Tak seperti jalan-jalan di bagian lain jalan setapak di kompleks itu nampak tak terurus. Batu-batunya banyak yang sudah lepas tercampur dengan tanah dan rumput-rumput liar yang tumbuh. Mungkin sengaja tak dipelihara karena bukan bagian yang menarik dari Kebun Raya.
Suasana di kuburan (namanya juga kuburan) tampak kelabu. Pohon-pohon rindang yang menaungi batu-batu nisan menambah suasana menjadi makin suram. Tugu-tugu makam dengan desain Eropa kuno bertebaran memenuhi kompleks pekuburan. Tulisan yang tertera masih dalam bahasa Belanda tua. Batu-batu tua yang sudah memudar, sebagian berwarna kecoklatan terkena tanah dan berlumut di sana sini. Suasana yang aku tak suka, suasana kematian. Sesampainya di situ, Sasha minta berhenti sebentar. Sasha nampak menikmati suasana suram tersebut, yang sebenarnya menurutku agak creepy…
Sasha duduk di atas sebuah batu. Matanya memandang ke arah nisan yang bertebaran di depannya.
“Julie, do you know your ancestors? I mean, their origin, where they were come from. Their name maybe…?” Pandangannya tak lepas dari batu-batu nisan itu. Ada sesuatu di matanya.
“No. I don’t know much about them. I only know the name of my grandfather. What about you Sasha? How well do you know them?” Aku teringat akan amplop silsilah pemberian oma. Sayang aku belum sempat membacanya secara lengkap.
“Well, I know all of them. I can trace them back even to the middle ages.”

Sasha
“That’s awesome. Are you guys from Hungary always like that?” Sasha tersenyum geli mendengar pertanyaanku.
“Nah, only me. I’m the family freak I guess.”
“Yea. Seems you have nothing to do but tracing them. Why do you do that? What for?”
“You have a lot of benefit by knowing them you know. More than you realize. For example, you will know who you will deal with. Or you can claim back things that belongs to your family, maybe things that had been taken by the anybody else in your case maybe things taken by the Dutch? That could possibly happened.”
“I doubt it.” Sasha tersenyum kecil mendengar ketidakpercayaanku. Ia lalu menatapku dengan serius,
“Knowing the origin of your family, your ancestors, is not just a wasting of time. Especially for those who have obligation to preserve ancient treasures from their ancestors. For some people, bearing the legacy of the family is an honor. It’s like a noble thing to do. The person bound with such destiny is not considered as a commoner. It’s an honorable duty.”
Aku terdiam mendengar perkataan Sasha. Aku teringat akan permintaan oma. Aku lalu bertanya kepadanya,
“What about the legacy of your family? Do you have any duty to fulfill?” Sasha memandangku dengan tajam,
“Legacy? Why do you ask that?”
“Well, you are the one who sounded like you have one.” Sasha tak segera menjawab. Ia hanya memandang ke arah batu-batu nisan yang membisu. Tatapannya menerawang jauh ke depan. Lanjutnya,
“I have my own quest. What about you? Do you bear some obligation in you family?”
“I don’t know exactly… I’m not sure about everything…” Kali ini aku yang memandang ke arah kuburan sunyi itu.
“Something is in your mind. If you don’t mind, you can share it with me..” Sasha berkata dengan lembut. Aku menggelengkan kepalaku.
“I’m not sure. Everything still obscure, so blurred. Maybe someday I’ll tell you. Not now…” Kataku lagi,
“Anyway, thanks for asking.” Sasha nyengir mendengar ucapanku. Katanya,
“Do you know what? There is someone I know who is special to me without any legacy or nobility she might have. Personally, I don’t care about all that stuffs. As time goes by, I find out that a real noble person is not considered by their heritage or ancestors, but by their hearts. That person is different. Compare to others. I knew she is someone from the first time I met her.” Sasha berkata begitu sambil menatapku.
“And you are that special person. I cherished you.” Sasha menatapku tak berkedip. Aku bengong mendengar ucapannya. Tak peduli dengan terkejutnya aku, Sasha mengambil tanganku dan menciumnya,
“It would be an honor for me to have such a lady under my care.” Gile nih ABG omongannya kayak orang dewasa gini? Seperti membaca pikiranku, Sasha berkata lagi,
“I’m not joking.” Oh ya, benar. Dia nggak becanda.
“Shall I, my lady?” Sasha masih memegang tanganku. Ia lalu mengusap pipiku dengan lembut. Jantung berdegup dengan kencang.
“Can I be your man?” Matanya yang biru teduh itu seakan membiusku. Sasha mendekatkan wajahnya dan mencium bibirku. Aku terkejut namun tak kuasa menahan pesonanya.
“Sasha…” Bibirnya terasa dingin menyentuh bibirku. Aku menyentuh wajahnya, kulitnya terasa dingin di tanganku.
“Your skin is so cold…Are you okay Sasha?” Sasha memegang tanganku lembut,
“It’s okay. Don’t worry about me… ” Ia menciumku sekali lagi cukup lama. Gemersik dahan-dahan pohon mengalun di telingaku.
“I love you.” Dahan-dahan pohon tak lagi terdengar, kutenggelam dalam dekapannya.
Seperti mimpi semuanya terjadi begitu saja. Sasha is my man now. My guardian. Kami baru saja berpisah beberapa jam yang lalu namun aku sudah kangen berat sama dia. Kayaknya udah lamaaaa banget aku nggak ketemu dia… Miss you a lot ^_^
(song: “Janji Suci” – Yovie & Nuno)
