Hai diary, aku terusin ya ceritanya….
Elie mengikat tanganku dan menutup mataku sehingga aku tak bisa melihat arah kami pergi. Ia membawaku ke tempat yang cukup jauh dari Bandung. Semula kurasakan mobil meluncur pada jalan yang mulus. Setelah agak lama, sekitar setengah jam mobil tampaknya belok ke kiri dan memasuki sebuah jalan yang tak terlalu bagus. Setelah berjalan dengan terguncang-guncang agak lama mobil berhenti. Elie menarik aku keluar dari mobil. Aku menggigil. Udara di luar terasa sangat dingin. Nampaknya Elie membawa aku ke sebuah tempat yang terletak di kaki gunung. Elie menarik aku yang berjalan dengan susah payah karena harus berjalan dalam keadaan terikat dan tertutup mata.
Kami lalu memasuki sebuah rumah. Rumah itu tampak tak dihuni lagi. Bau jamur dan kayu yang mulai membusuk menusuk hidungku. Elie membawaku masuk lebih dalam lagi ke dalam rumah. Kakiku sebentar-sebentar terperosok masuk ke dalam lantai yang kayu-kayunya mulai rapuh. Sampai di suatu tempat, Elie mendorongku ke sebuah dinding.
“Don’t move.” Aku mulai takut dengan situasi yang tak nyaman itu namun tetap berusaha tenang di hadapan Elie. Ia membuka tutup mataku. Ruangan sangat gelap. Aku tak dapat melihat apa-apa kecuali sebuah sosok di hadapanku, matanya berpendar dalam kegelapan. Sasha benar, Elie bukan manusia. Oh, betapa bodohnya aku.
“Where is the necklace?” Oh, Elie mencari kalung itu.
“I don’t have it now.” Elie tampak kesal.
“Okay. We’ll wait for your boyfriend, Sasha. You’ll deliver his necklace to me and yours too.” Elie menurunkan senjatanya. Aku memberanikan diri berbicara,
“Your real name is not Elie.” Elie menyeringai,
“Now you are getting smarter. You’re right. I’m called Ilyasa or Ilya to be precise.” Elie atau Ilya melanjutkan,
“I’ve been waiting for this moment. To get the pieces together and see him die. And you probably too. Or maybe not…” Ilya mendekatiku.
“Well, suddenly I remember something. Seems I have an unfinished business with you, if I can recall that?” Ia menodongkan senjata ke arahku dan memegang wajahku. Aku berusaha menghindari tetapi tangannya memegangi erat daguku.
“What are you thinking you’re doing? Do you want to escape? Or slap me like before?” Aku mencoba bergerak dan mengelak dirinya namun Ilya mencengkeram tubuhku erat-erat.
“Don’t you think of making any movement.” Ilya menekan tubuhku ke dinding dengan keras. Aku hampir tak dapat bernafas. Ia menyentuh wajahku. Jari-jarinya terasa dingin meluncur di kulitku. Ia mulai mengelus bibirku. Aku menggigil.
“Please don’t.”
“Shut up! I want to enjoy myself before he comes. I will make him suffer more before he die by doing this…” Ia menundukkan kepalanya hendak menciumku. Tiba-tiba Ilya terdorong ke samping. Pistol di tangannya terlempar jauh. Sasha muncul di hadapanku.
“Bastard!” Ilya berusaha meraih senjatanya kembali namun Sasha menerjang Ilya. Ilya mengelak dan berhasil memukul Sasha. Sasha memukul balik Ilya. Sepasang taring tumbuh perlahan pada gigi Ilya. Cakar-cakar yang tajam memanjang pada jari-jari tangan Ilya. Sasha pun demikian. Sepasang taring terhunus pada mulutnya. Pada jari-jari tangannya pun tumbuh cakar-cakar yang tajam. Itu wajah Sasha yang sesungguhnya. Makhluk yang mengerikan.
Mereka berdua mengeluarkan bunyi geraman bagai serigala, saling mencakar dan menggigit. Ilya berusaha mengambil senjatanya kembali dan Sasha berusaha mencegahnya. Ilya mendorong Sasha dan berhasil meraih pistol tersebut. Mereka berdua bertarung untuk bisa menembakkan pistol itu. Ilya tampak payah menghadapi Sasha. Ia terluka lebih banyak dari pada Sasha. Tiba-tiba terdengar tembakan. Aku melihat Ilya terkapar. Sasha perlahan bangkit dan mendekatiku,
“Let’s get out of here!”
“Is he dead?” Sasha mendorong tubuh Ilya dengan kakinya. Ilya tak bergerak. Ia memeriksa nadinya. Sasha tampak senang.
“He’s dead. Let’s move! We don’t have much time!”
Sampai di luar kami mengambil mobil Ilya dan segera pergi dari situ.

