Hi My Diary,
Hari ini aku pergi sama Sasha… Sebenarnya, aku masih ngga mood untuk pergi. Tapi kupikir apa salahnya aku jalan-jalan untuk melupakan rasa sedihku. Kalau jalan sama dia, pasti sedihku bisa hilang ^o^. Sasha hari ini off dan minta ditemenin belanja bahan makanan. Kami pergi belanja sayur-sayuran di tempat yang kata Sasha paling bagus barang-barangnya. Begitu kami tiba di supermarket itu, Sasha langsung pergi ke bagian sayur dan buah-buahan. Anehnya kulihat Sasha cuma muter-muter aja. Kuperhatikan dia menyusuri rak dari satu ujung sampai tiba pada ujung seberangnya, mengambil beberapa jenis sayur, memegang dan mengamatinya lalu menaruhnya lagi ke rak. Sudah satu baris rak dia jelajahi, keranjangnya masih kosong. Begitu pula pada rak kedua. Dia hanya mondar-mandir sampai akhirnya ketika sampai pada rak ketiga, aku tak tahan lagi, lalu bertanya kepadanya,
“Sasha, I see you picking vegetables, take them back and go away. Your haven’t bought any veggies. Your basket is still empty. What are you doing exactly? ” Aku menunjuk keranjangnya yang masih kosong.
“Um,.. well, actually I’m doing some small research here. I want to make some comparison for my own supplied stuffs.” Sasha berkata sambil menggaruk-garukkan kepalanya. Dia balik bertanya,
“Is that okay with you? If not, do you want to go somewhere else?”
“It’s okay. Go ahead. I don’t mind.” Sasha nyengir dan berkata,
“Let me finish this, then we go somewhere else. Okay?” Ia tersenyum manis banget kayak lolipop.
Sasha menepati janjinya. Dia menyelesaikan surveynya dengan cepat dan kami segera pergi dari supermarket itu. Jam menunjukkan pukul sepuluh ketika kami pergi dari tempat itu. Kami lalu pergi menyusuri daerah kota lama di bilangan Jakarta Utara. Di tengah jalan Sasha berkata,
“The nicest thing about night trip is you’ll never get stuck in a traffic jam. I like it very much.” Dia tertawa senang. Gigi-giginya yang kecil tampak menghiasi wajahnya. Setelah berkelana cukup jauh kami berhenti di sebuah dermaga tempat banyak kapal-kapal pribadi berlabuh. Di dermaga itu ada sebuah bangku. Kami duduk di situ. Pemandangan malam itu ternyata indah karena bulan sedang purnama. Bulan yang memancar cerah memantul pada air laut yang berombak kecil, menimbulkan kerlip cahaya yang indah dari kejauhan. Angin malam bertiup dengan agak kencang dan dingin. Kelihatannya sedang ada hujan di gunung sehingga dinginnya angin terasa hingga ke laut. Sasha melihat ke arah Timur dan berkata,
“How beautiful the full moon tonight. See, it’s beautiful around here.”
Aku melihat ke arah Sasha memandang. Ternyata malam ini bulan sedang purnama. Samar-samar, ada bayangan kelabu di antara kegelapan. Mungkin ini yang disebut indah oleh Sasha.
“You can seen your own shadow in the moonlight Julie.”
Eh, betul juga. Aku mencoba menggoyangkan tanganku di atas tanah. Tampak ada bayangan samar-samar di bawahnya.
“You are right. That’s amazing. I’ve never noticed this before.” Sasha nyengir,
“Well… it’s nothing. I can show you a plenty of miracle bigger than this.” Dia menatapku dengan pandangan sedikit belagu lalu melanjutkan,
“If I can fly, do you want to fly with me?” Kini aku yang ganti tertawa,
“Fly? Well, if you can, why not? But… I doubt it. Unless you have wings…
“I mean it.” Sasha tampak serius,
“I will take you up there when I have a chance.”
“Well, okay. Go ahead. You’re welcome.”
“No, you sound sceptic. Promise me you wait for that chance.”
“Are you on something Sasha? I’m worry about you.”
Sasha menggelengkan kepalanya. Ia menyentuh rambutku lembut,
“No. Listen to me. If, I could fly, would you fly with me?” Dia kelihatan ingin sekali bisa menyakinkanku.
“Well… “Aduh, cowok ini oke tapi kok kadang agak aneh ya? Kadang agak creepy…
“I promise. I will take you there one day with my wings.” Sasha menunjuk ke atas lalu menatapku,
“Well, if so, as you say, then I would like too… But, for the time being, let me try to believe you. Okay?”
“Hmm.. okay. Wait for that time Julie. I will take you to places you’ve never seen before.” Sasha menatapku dengan lembut. Entah mataku yang agak siwer, atau memang begitu, aku melihat mata Sasha yang biru itu, malam itu agak berpendar (matanya berpendar seperti mata kucing kalau kena sinar lampu). Seperti lycan aja. Dia tuh lycan atau orang sih?
(song: “Bila Aku Jatuh Cinta” – Nidji)
