Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘flora’

h1

Senyum di Pagi Hari

Mei 17, 2009

Hai diary,

Aku ingat saat itu aku terbangun di sebuah ruangan rumah sakit. Hari masih pagi, matahari pagi bersinar menembus tirai-tirai ruangan tempat aku terbaring. Rasanya aku mengenal rumah sakit ini. Aku menggerakkan kepalaku.

“Sasha?” aku mencoba mengangkat kepalaku, rasa nyeri menyengat leherku. Perlahan-lahan aku mulai ingat, Sasha ada bersamaku dan ia mengambil darahku!

“Kau sudah bangun?” Tiba-tiba Ariel muncul di hadapanku. Ia tersenyum dan mengusap rambutku. Aku melihat ke sekelilingku, ada Flora tak jauh dari Ariel. Ia bergegas mendekatiku,

“Kakak, apa kabar?” Flora nyengir dengan senyumannya yang khas itu.

“Sasha di mana? Berapa lama aku di sini?” Aku memegang tangan Ariel. Tanganku tak dapat bergerak dengan leluasa, ada jarum infus dan transfusi pada kedua belah tanganku.

“Sasha ada kok, jangan panik gitu dong.” Ariel lalu memanggil Sasha.

Kulihat seseorang memasuki ruangan. Sasha! Ia tampak sehat dan wajahnya agak khawatir. Ariel dan Flora segera keluar ruangan memberi kami privacy. Sasha langsung memelukku.

“Sasha!” Sasha menciumku lembut.

“Are you okay?” Ia menganggukkan kepalanya.

“I’m sorry you have to do this…” Sasha tampak sedih. Aku menggelengkan kepalaku.

“Don’t say that.” Aku tersenyum dan mengusap rambutnya. Aku ingin bisa melihatnya bertahan dalam hidupnya. Sasha lalu bercerita tentang kejadian setelah ia meminum darahku itu.

Setelah ia minum lebih dari dua liter darahku, aku jatuh pingsan. Sasha kemudian bergegas membawaku ke rumah sakit. Dengan mengarang cerita tentang kejadian yang menimpaku, aku segera di rawat di ruang gawat darurat. Dokter segera memberikan tranfusi darah karena aku kehilangan cukup banyak darah. Sasha segera menelpon Ariel dan menjelaskan apa yang terjadi dengan diriku. Ariel dan Flora lalu segera berangkat ke Bandung untuk mengurus aku.

Yang kuingat, Ariel cukup tak senang dengan Sasha. Ia terlihat agak menahan dirinya karena aku masih sakit. Ketika aku keluar dari rumah sakit, aku masih merasakan ‘aura’ tak senang muncul dari Ariel. Ia tak bicara banyak, namun sebelum aku meninggalkan rumah sakit aku melihat ia berbicara serius dengan Sasha. Mudah-mudahan tak ada yang perlu lecet-lecet gara-gara urusan mereka.

(song: “God Only Knows” – Prisa)

h1

First Moon, New Phase

April 3, 2009

Hai diary,

Aku terusin ya ceritaku kemarin. Malam setelah pertemuan kami, aku bertemu dengan Reno dan Elie pada hari Selasa. Hari Senin aku ada meeting sampai malam sehingga tak dapat pergi. Kami mengundurkan rencana kami ke hari berikutnya. Aku datang bersama Flora. Ariel tak ikut karena itu acara cewek-cewek katanya. Kami datang agak malam, sekitar jam delapan. Elie baru saja mulai bermain piano. Kafe Lokananta itu unik, tempat itu tak punya panggung, hanya ada piano diletakkan tak jauh dari pintu masuk. Setiap aku datang ke tempat itu pasti orang yang sedang memainkan piano itu. Apakah pihak kafe selalu menyediakan pemain piano atau pengunjung boleh memakai piano tersebut, aku tak terlalu tahu. Yang jelas malam itu Elie menguasai piano tersebut.

Elie main piano dengan bagus. Dia memainkan banyak lagu-lagu jazz yang aku tak terlalu tahu judulnya. Menjelang jam dua belas malam, dia memainkan sebuah lagu klasik berjudul “Clair de Lune”. Clair de Lune adalah salah satu lagu favoritku! Sepertinya ia sengaja memainkan satu lagu klasik di antara musik jazz yang aku tak kenal. Aku berhenti berbicara untuk mendengarkan permainnya dengan lebih jelas. Lagu itu mengalir dari tangannya dengan lembut, alunannya membuai telingaku. Permainannya yang indah itu membuatku seakan berada di tempat lain.

Elie berhenti bermain setelah itu dan bergabung dengan kami. Elie menatapku dan bertanya kepadaku,

“Hi. How are you? Did you enjoy the music?” Ia tersenyum lebar kepadaku. Kok langsung nanya lagunya sih?

“Yes I enjoy your playing. Especially the last song. I like it very much. It was my favorite song, Clair de Lune.” Elie tampak tak menyangka dan senang mendengarnya.

“That’s amazing. The idea of playing the score just poped in mind. Seems we have some connection…” Elie memandangku dengan pandangan penuh arti.

“Maybe…” Aku mengangkat bahuku. Elie menyentuh tanganku.

“Or maybe because I’m welcoming the moon. Tonight is a new moon. A new moon means a new start, a new celebration.” Astronomer kah dia sampai tahu jadwal perkembangan bulan seperti itu.

“Are you stars observer Elie?” Penasaran juga aku jadinya.

“Well, not observing the star to be precise. I only interest in watching the moon. I’m a moon worshipper…” Dia tertawa.

“No, not really. I was just joking. My works is related to the moon phase actually.” Berkaitan dengan bulan? Aku tiba-tiba merasa tak nyaman.

“What kind of job is that?’

“Well… any kind of job I’m working on, it’s a bit dificult to be more specific. Believe it or not, people’s biological rhythm is influenced by moon phase for some degree.” Dia bicara apa sih? Mendengar percakapan kami, Reno ikut nimbrung. Katanya Elie sekarang sedang mengadakan penelitian yang berkaitan dengan nano teknologi. Salah satu subjek yang ia dalami adalah pengaruh gravitasi terhadap tubuh manusia. Sedang musik adalah salah satu hobinya. Untuk melepas stes katanya. Oh begitu rupanya.

(Song: “Clair de Lune” – Claude Debussy)