Hari ini aku pulang malam. Biasanya aku pulang jam 6.30, tetapi karena kerjaanku banyak buanget (temenku mendadak kena radang usus buntu jadi harus operasi hari ini ;_; ) jadi aku baru pulang jam 8 malam. Hiks T_T . Tapi, gak papa kok, walau terpaksa memburuh seperti itu, ada sedikit hiburan malam ini.
Begini ceritanya, tadi tuh, aku lagi berdiri di pinggir jalan – nungguin taksi sekalian ngelamun – ketika seorang ABG bule melintas di depanku. Aku sempat melihat wajahnya sekilas, manis juga… ^_^ . Dia berjalan sendirian, sepertinya agak tergesa-gesa. Mungkin mau janjian sama seseorang. Waktu aku mau jalan, tiba-tiba si bule itu berbalik ke arahku dan kayaknya memanggil-manggil diriku.
“Miss!” Tadinya kupikir dia memanggil orang lain, tetapi ternyata kulihat di sekitarku tak ada orang lain jadi aku akhirnya menengok ke arah dia, dengan sedikit heran.
“Yes?” Kulihat dia mengacungkan sesuatu di tangannya,
“Is this yours? I think you dropped your wallet.” Dia memegang sebuah dompet berwarna merah marun yang ternyata memang dompetku! Astaga! Kapan jatuhnya dompet itu?
“Oh, yes, that’s mine. Thank you.” Aku ambil dompet dari tangannya. Dia lalu berkata,
“I saw it fell when you were standing there.” Dia menunjuk spot tempatku berdiri tadi, tempat di mana aku melihat dia melintas di depanku. Kucoba untuk mengingat-ingat, sedang apa ya tadi kira-kira diriku sampai harus mengeluarkan dompet? Aneh, aku kan tidak melakukan transaksi apapun, mengapa dompetku bisa tiba-tiba bisa keluar dari tas dan jatuh? Kucoba mengingat lagi, mungkinkah aku mengeluarkan ponselku dan dompetku turut keluar bersama ponsel itu? Kok rasanya engga juga ya? Hmm, agak aneh ya…
“You better check your stuffs, are they still there or not.” Oh ya, betul juga. Aku harus cek isi dompetku. Segera aku cek isi dompetku. Ternyata isinya masih lengkap. Aku memandang ke arahnya dan berkata,
“Nothing’s lost here. Wow, thanks a lot. I’ll get many trouble if I loose this wallet. You don’t wanna know.” Bule itu tersenyum,
“Good. I’ve ever experienced the worst.” Wajahnya makin imut kalau tersenyum lebar seperti itu. Dia lalu mengulurkan tangannya,
“My name is Sasha.” Namanya seperti nama perempuan, wajahnya sih cukup manis. Kurasa kalau bibirnya dikasih lipstick pasti jadi cantik… jadi, pantes aja kalau namanya Sasha.
“I’m Julia. Nice to meet you Sasha.” Aku menjabat tangannya sambil memandang wajahnya dengan seksama, matanya berwarna biru agak kelabu.
“Are you born on July?” Dia kelihatan penasaran. Yea right, jawabku dalam hati. Thanks to my parents who gave me this predictable name.
“Well, as you already know it well, almost every girl named July is born on July.” Aku tertawa sebel.
“I knew it!” Dia seperti tersenyum geli mengetahui tebakannya tepat.
“I’m a cook. I work in that mall in a sandwich counter. You’d probably know the place.” Dia menunjuk ke arah sebuah mal yang terletak tak jauh dari tempat kami berdiri. Aku tahu tempat yang ia maksud.
“I’m still new here. I just arrived from Budapest, Hungary a week ago. Do you work around here too?” Dia ingin tahu juga rupanya.
“Yes, I work across the street, in that building in front of you. On the 12th floor.” Tanganku menunjuk ke sebuah gedung di seberang jalan. Sasha, si bule itu kelihatan senang,
“You work next door! You should visit my place and taste my specialty!” Lagi-lagi dia nyengir lebar. Dia lalu memberikan kartu namanya.
Aku mencoba mencari kartu nama di dompetku (untung aku masih ada satu lembar walau ujungnya sudah tidak lancip lagi >_< ) dan memberikan kartu itu kepadanya. Ia membaca kartu nama itu dengan seksama, katanya,
“You work in a bank.” Ia lalu mencoba membaca nama bank yang tertera di kartu namaku dengan susah payah. Aku tertawa mendengar lafalnya yang aneh itu dan mengkoreksinya. Ia menggaruk-garuk kepalanya tampak pusing.
Well, friend, pertemuan tadi lumayan membuatku refreshed malam ini ^_^.
(Song: Kuingin Kau Untukku – J-Rocks)

