Hai Diary,
Aku lagi mempelajari surat-suratnya oma nih. Ternyata isinya cukup mencengangkan seperti cerita novel. Surat-surat tersebut isinya tentang silsilah keluargaku dari pihak opa. Opa lah yang membawa kalung itu. Kalung itu seharusnya diberikan kepada mamiku Bertha, namun opa tak sempat memberikan kalung tersebut karena mami keburu meninggal dunia. Opa berkeputusan untuk menyimpan kalung itu dan memberikannya kepadaku saat waktunya sudah tepat. Karena opa keburu meninggal, oma lah yang kemudian memberikan kalung itu kepadaku, beberapa minggu sebelum beliau wafat.
Sekitar tahun 1800an, di sebuah daerah perkebunan di Ambarawa, Jawa Tengah, lahir seorang anak bernama Djoko dari seorang wanita bernama Tini. Ayah Djoko meninggal dunia ketika ia masih berusia satu tahun. Tini terpaksa mencari nafkah untuk membiayai hidup mereka berdua. Suatu hari ibu Tini bertemu dengan Alexander van Rijn, seorang mandor perkebunan yang ketika itu baru tiba dari Negeri Belanda. Alexander jatuh hati kepada Tini dan berniat untuk meminang Tini sebagai istrinya. Namun Tini menolak proposal Alexander karena Tini mengaku tak bisa melupakan mendiang suaminya.
Sekalipun Tini menolak proposalnya, Alexander tak segera menyerah. Alexander tetap memperhatikan Tini dan dekat dengannya. Hingga akhir hayatnya, Alexander tidak menikah dan tidak memiliki keturunan sehingga ia menganggap Djoko seperti anaknya sendiri dan membiayai sekolah Djoko hingga tamat akademi. Alexander tinggal di Hindia Belanda sampai ia meninggal. Selama hidup, tak pernah ada keluarga dari Alexander yang datang menengok dia. Alexander sendiri tak banyak bercerita tentang keluarganya. Bahkan ketika meninggal, tak seorang pun anggota keluarga Alexander datang melayat, atau menjenguk makamnya sesudah itu. Ia meninggal hanya ditemani oleh Tini dan Djoko. Lelaki yang misterius.
Karena Alexander tak mempunyai keturunan, ia memberikan seluruh hartanya kepada Tini dan Djoko. Pada saat menjelang ajalnya, Alexander memberikan sebuah pusaka kepada Djoko. Alexander berpesan kepada Djoko untuk menjaga pusaka itu baik-baik dan jangan menjualnya kepada siapapun. Keturunan Djoko selanjutnya harus menjaga pusaka tersebut. Alexander juga berkata bahwa anak keturunan Djoko yang mempunyai tanda lahir khusus adalah yang berhak menyimpan pusaka itu. Pusaka itu adalah kalung yang kini ada di tanganku.
Jadi, Djoko ini adalah kakek moyangku yang mula-mula membawa kalung itu. Sekarang jelas mengapa bentuk dan gambar kalung itu bergaya eropa bukan Indonesia asli. Karena asalnya memang dari Eropa sana, bukan dari sini. Benda itu telah jauh-jauh berlayar untuk kemudian tiba di tangan seorang penduduk asli di pulau Jawa. Hanya, masih ada beberapa bagian yang masih blur bagiku. Tak dijelaskan siapa sebenarnya Alexander dan latar belakang mengapa kalung itu harus disimpan. Lalu, untuk apa kalung itu dibuat. Juga tak dijelaskan mengapa bagian bawah kalung itu sudah patah sejak diberikan kepada Djoko.
Terus terang, aku masih tidak puas dengan info yang kudapat. Aku coba baca surat-surat yang lain. Isinya kebanyakan tak terlalu penting, soal administrasi pekerjaan opa dahulu. Besok aku akan share info ini kepada Ariel untuk mendapatkan masukan tambahan dari dia. Anyway, cerita tentang kalung ini cukup fantastis bagiku.
