Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘disaster’

h1

Dia Bukan Manusia

September 29, 2008

Dear Diary,

Aku ngga tidur semalam. Aku coba untuk memejamkan mataku, wajah makhluk itu masih membayang di pikiranku. Yang aku ingat waktu itu adalah kami lalu turun ke bawah dan duduk di ruang tengah. Aku masih pasang muka marah. Sasha minta aku duduk dengan tenang. Sasha kelihatan susah sekali untuk memulai pembicaraan. Aku pasang muka cemberut. Walau aku marah, aku sempat menangkap ada kesedihan di mata Sasha.

“Julie, I want to tell you the truth about me. It’s the least of what you expected from me. Please be calm. Whatever it takes, you must know: I love you.” Aku menggelengkan kepala tanda tak setuju. Kataku lirih,

“I don’t think so…” Sasha melanjutkan dengan mendesah susah.

“I took your blood when you stayed here a couple of weeks ago.”

“How could you Sasha?” Sasha mengangkat tangannya mengisyaratkan aku untuk diam dulu.

“I did it when you were in deep sleep. I let the blood flowed through some injection, to the packs you saw…” Ia tampak susah sekali menerangkan semuanya lalu melanjutkan,

“I took almost two pints of your blood. I’m sorry Julie. I have hurt you. You got sick after that. I shouldn’t have done that to you. I have promised to myself that I won’t do this to you in the future.” Sasha memandangku dengan penuh penyesalan.

“What for Sasha?” Sasha terdiam.

“I need your blood to keep myself alive.”

“What for? Are you sick?” Sasha menggelengkan kepalanya.

“It’s not like that. I’m completely healthy.” Sasha memandangku dengan kesedihan, ia menghela nafasnya,

“Julie, I know sooner or later you will find this painful fact about me. I’m not a human. I’m a vampire. I feed on your blood Julie, human’s blood.”

Aku nggak tahu mesti jawab apa. Aku cuma memandang Sasha dengan pandangan horor.

“There’s no such things as vampire! Vampire doesn’t exist! It’s just myths!” Sasha menggelengkan kepalanya.

“Unfortunately not. Vampire is real, it is as real as you. I am what I am. Nobody can change what I am.”

“No! You’re lying! You are just making excuses to cover your evil works!”

“No I don’t. I find no reason lying to you.” Sasha menatapku tak berkedip.

“Sasha?” Aku sadar ia tak berbohong. Aku menjadi sangat sedih sekaligus takut. Sasha mencoba meraih tanganku, aku menolaknya.

Aku masih shock berat. Dadaku terasa sesak, kepalaku terasa sangat pening. Perasaanku bercampur aduk di dada. Apa yang terjadi? Bermimpi kah aku? Sasha mendekat dan memelukku. Aku berontak dalam pelukannya. Sasha mencoba menenangkanku namun aku tetap meronta.

“Don’t touch me beast!”

“Julie, don’t hate me for what I am…”

“Release me! Let me go!” Sasha melepaskan tangannya dariku.

“I need time to digest all these things Sasha. Please…”

Aku sedih banget. Aku ngga nyangka Sasha itu bukan manusia. Aku tiba-tiba seperti kehilangan seseorang yang selalu dekat di hatiku, yang kusayangi. Orang itu kini tiba-tiba menjadi sebuah makhluk asing yang tak kukenal. I miss my old Sasha… T_T Where is he?

(song: “Matahari” – Agnes Monica)