Ia yang kukenal ternyata bukan ia yang sebenarnya. Sasha telah lahir ke dunia ini seratus lima puluh tahun yang lalu. Ia telah digariskan untuk meneruskan tugas keluarga yang telah ditanggung oleh nenek moyangnya lebih dari dua ratus tahun silam.
Kembali ke masa silam, sekitar tahun 1580, di Transylvania, Romania, hidup seorang bangsawan bernama Countess Báthory Erzsébet yang punya perilaku sangat kejam. Ia pada akhirnya dijatuhi hukuman mati karena terbukti melakukan berbagai kejahatan di purinya. Countess Báthory telah membunuh banyak wanita maupun pria demi mempertahankan kecantikannya. Menurut pengakuan Countess, ia mandi darah korbannya dengan tujuan menjaga kulitnya agar tetap awet muda.
Walau telah mati, dampak dari kejahatannya masih bergaung hingga kepada keturunannya. Menurut cerita Sasha, salah seorang korbannya adalah seorang wanita muda bernama Doria Popescu anak seorang perajin perhiasan yang tinggal di sekitar daerah itu. Dalam sebuah perlawanan dengan Countess dan para pengawalnya, Doria terbunuh bersama suaminya. Anak mereka, yang ketika itu berusia lima tahun, dirawat oleh ayah mereka yang bernama Mircea Popescu hingga beranjak dewasa.
Mircea yang begitu sedih dengan kematian anak dan menantunya, selama beberapa bulan selalu mendatangi tempat kejadian di mana mereka menemui ajal mereka. Suatu hari ketika sang kakek sedang termenung di pinggir jalan tersebut, ia melihat ada sebuah kilauan memancar dari antara rerumputan. Ia mendekat dan menguak rumput yang ada di situ. Ternyata sebuah pecahan liontin.
Melihat potongan liontion tersebut Mircea menjadi sangat geram. Potongan itu adalah pecahan liontin yang berasal dari kalung milik anaknya. Liontin tersebut adalah bagian dari kalung yang merupakan pusaka keluarga mereka. Mircea sangat sedih mengetahui bahwa kini pusaka yang baru diberikan kepada Doria anaknya, telah dirampas oleh Countess. Ia lalu bersumpah akan mencari kalung dan membunuh Countess tersebut.
Namun keinginan Mircea tak sempat terkabul. Countess keburu dihukum mati dan Mircea sendiri tak lama kemudian meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan. Ia tak sempat melaksanakan sumpahnya dan akhirnya memberi sebuah surat wasiat kepada cucunya Ion yang waktu itu baru berusia enam tahun untuk melanjutkan amanatnya. Pencarian dimulai ketika Ion berusia tujuh belas tahun (saat ia mulai beranjak dewasa). Pencarian tersebut menjadi lambat karena salah seorang cucu Countess, karena malu dengan reputasi neneknya, pergi ke Hongaria dan mengubah namanya menjadi Rendor Huszar. Ia pergi membawa sebagian harta neneknya, termasuk di antaranya kalung milik keluarga Popescu.
Keluarga Popescu tetap mencari pemilik kalung hingga akhirnya sampai kepada kakek Sasha yang bernama Dumitrú Popescu. Sang kakek setelah mengetahui bahwa keluarga Huszar adalah keturunan Erzsébet yang dicari-cari, memutuskan untuk pergi ke Hongaria. Saat itu masa explorasi sedang berjaya, keluarga Huszar kemudian pindah ke Belanda pada akhir abad ke-18 dengan rencana akan bergabung dalam VOC. Anak turun mereka kemudian menikah dengan orang setempat. Mereka mulai menghilangkan jati diri Hongaria mereka dan beralih nama menjadi keluarga vanRijn. Dumitrú yang mengetahui pengalihan jati diri tersebut hampir berhasil mendapatkan orang yang membawa kalung tersebut. Orang tersebut berhasil diidentifikasi dengan nama Alexander vanRijn. Sebuah nama yang tak asing bagiku.
Upaya Dumitrú gagal setelah ia tewas jatuh dari kuda dalam pengejarannya. Usaha pencarian tertunda karena anaknya yang tertua, Radu, yang sebenarnya diberikan mandat untuk mencari kalung, tidak lagi berminat mengejar kalung tersebut. Pencarian pun terhenti sampai suatu hari Ilyasa, adik Radu mendapat sebuah mimpi. Dalam mimpi tersebut Dumitrú menagih janji kepada kakak beradik tersebut untuk meneruskan amanat keluarga mereka. Radu menolak untuk campur tangan dalam urusan kalung tersebut. Ilyasa tak setuju. Pertikaian berlanjut dengan duel antara mereka yang berakhir dengan kematian Radu di tangan Ilyasa.
Ilyasa merasa sangat menyesal telah membunuh kakaknya dan bersumpah untuk mendapatkan kalung tersebut dengan cara apapun. Tepat setelah ia bersumpah, anak Radu lahir. Anak tersebut dinamakan Sandor, atau dipanggil dengan nama Sasha. Sandor lahir dengan membawa tanda lahir yang memiliki arti bahwa dialah yang berhak mewarisi kalung tersebut, bukan pamannya Ilya. Mengetahui bahwa anaknya memiliki tanda itu, Maria, ibu Sandor sengaja menyembunyikan Sandor dari Ilya supaya Ilya tak dapat merebut anak itu darinya.
Sandor berhasil disembunyikan hingga ia berusia dua puluh satu tahun. Pada saat itu Ilya berhasil mengetahui bahwa Sandor ternyata adalah anak kandung Radu kakaknya. Ilya sangat marah kepada Maria dan dalam kemarahannya membunuh Maria. Ilya lalu membawa lari Sandor. Pada saat itulah Sandor baru mengetahui bahwa Ilya sudah bukan manusia lagi. Ilya, demi sumpahnya merebut kembali kalung tersebut telah mengadakan perjanjian dengan kegelapan untuk bisa memiliki hidup abadi sehingga mampu mengejar Alexander kemanapun ia pergi.
(Song: “Dan Orang Itu Aku” – Marvells)




