Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘ariel’

h1

Kabar Pertama

Juli 21, 2009

Hai,

Aku sudah dapat kabar dari Julie. Tahukah kamu apa yang ia kirim? Ia mengirim fotocopy diarynya! Dia bilang di tempat dia sekarang ngga ada internet & dia males kirim kirim posting lewat hape jadi lebih baik kirim surat aja. Agak ribet & low-tech tapi anyway at least aku tahu dia masih hidup. :-)

Pada dasarnya dia baik-baik saja. Dia lagi di luar kota. Dia nanya gimana keadaan Jakarta setelah pemboman. Aku bilang keadaannya biasa saja, hanya di beberapa tempat seperti mal suasananya agak sepi. Julie sekarang lagi keluar kota, dia tak memberitahu pergi bareng siapa. Ngomong-ngomong soal Julie (ngegosip nie, gapapa kan Jul? kan kamu edit dulu postinganku, kalau ngga setuju bagian ini tinggal kamu delete aja ;) ), temenku yang satu ini agak unik (aku ngga bilang aneh loh, cuma ‘agak unik’). Bersama sepupunya Ariel, Julie melakukan riset khusus tentang vampire dan sejarah Eropa Timur. Riset mereka berjalan cukup intensif dalam enam bulan terakhir. Belakangan baru aku tahu alasannya kenapa dia melakukan penelitian itu. Aku sendiri tak menyangka kalau Sasha seorang vampire. Waktu bertemu dengan dia pertama kali, dia biasa saja, seperti orang normal. Gerak-geriknya seperti orang pada umumnya, ngga seperti Edward Cullen di Twilight, yang memandang Bella dengan pandangan aneh, melihat manusia seperti harimau mau mencaplok kelinci :D .

Setelah tahu siapa Sasha sebenarnya, baru aku menyadari ada detail-detail kecil pada dirinya yang tidak natural. Seperti misalnya aku tak pernah bisa bertemu dia pada siang hari. Kemudian matanya kadang bercahaya waktu malam. Tangan atau pipinya dingin (dia cukup cuek untuk mau bersentuhan dengan manusia). Pada akhirnya, menurutku, Sasha itu orangnya menyenangkan, terlepas dari dia itu manusia atau bukan. Dia ramah, penuh perhatian, suka melucu dan kadang belagu juga. Sedih juga kalau sekarang aku harus berpisah dengan mereka. Yah, mungkin beberapa minggu ke depan aku sudah bisa bertemu mereka lagi, kalau masalah mereka sudah selesai.

Julie tak terlalu banyak cerita. Dia masih banyak urusan. Dia bilang kalau keadaan memungkinkan minggu depan cerita lagi. Ada banyak hal yang akan dia ceritakan, katanya begitu. Kita tunggu saja kabar minggu depan.

h1

Senyum di Pagi Hari

Mei 17, 2009

Hai diary,

Aku ingat saat itu aku terbangun di sebuah ruangan rumah sakit. Hari masih pagi, matahari pagi bersinar menembus tirai-tirai ruangan tempat aku terbaring. Rasanya aku mengenal rumah sakit ini. Aku menggerakkan kepalaku.

“Sasha?” aku mencoba mengangkat kepalaku, rasa nyeri menyengat leherku. Perlahan-lahan aku mulai ingat, Sasha ada bersamaku dan ia mengambil darahku!

“Kau sudah bangun?” Tiba-tiba Ariel muncul di hadapanku. Ia tersenyum dan mengusap rambutku. Aku melihat ke sekelilingku, ada Flora tak jauh dari Ariel. Ia bergegas mendekatiku,

“Kakak, apa kabar?” Flora nyengir dengan senyumannya yang khas itu.

“Sasha di mana? Berapa lama aku di sini?” Aku memegang tangan Ariel. Tanganku tak dapat bergerak dengan leluasa, ada jarum infus dan transfusi pada kedua belah tanganku.

“Sasha ada kok, jangan panik gitu dong.” Ariel lalu memanggil Sasha.

Kulihat seseorang memasuki ruangan. Sasha! Ia tampak sehat dan wajahnya agak khawatir. Ariel dan Flora segera keluar ruangan memberi kami privacy. Sasha langsung memelukku.

“Sasha!” Sasha menciumku lembut.

“Are you okay?” Ia menganggukkan kepalanya.

“I’m sorry you have to do this…” Sasha tampak sedih. Aku menggelengkan kepalaku.

“Don’t say that.” Aku tersenyum dan mengusap rambutnya. Aku ingin bisa melihatnya bertahan dalam hidupnya. Sasha lalu bercerita tentang kejadian setelah ia meminum darahku itu.

Setelah ia minum lebih dari dua liter darahku, aku jatuh pingsan. Sasha kemudian bergegas membawaku ke rumah sakit. Dengan mengarang cerita tentang kejadian yang menimpaku, aku segera di rawat di ruang gawat darurat. Dokter segera memberikan tranfusi darah karena aku kehilangan cukup banyak darah. Sasha segera menelpon Ariel dan menjelaskan apa yang terjadi dengan diriku. Ariel dan Flora lalu segera berangkat ke Bandung untuk mengurus aku.

Yang kuingat, Ariel cukup tak senang dengan Sasha. Ia terlihat agak menahan dirinya karena aku masih sakit. Ketika aku keluar dari rumah sakit, aku masih merasakan ‘aura’ tak senang muncul dari Ariel. Ia tak bicara banyak, namun sebelum aku meninggalkan rumah sakit aku melihat ia berbicara serius dengan Sasha. Mudah-mudahan tak ada yang perlu lecet-lecet gara-gara urusan mereka.

(song: “God Only Knows” – Prisa)