Hari pertama di buIan Desember aku menulis blog ini setelah sekian lama absen. Malam menjelang larut. Aku duduk bengong sendirian di teras. Sasha lagi mencari snack. Entah di mana. Baru saja selesai hujan. Cuaca di akhir tahun ini memang sudah kembali kepada asalnya, musim hujan. Kini tiada hari tanpa hujan dan tanah lembab yang tak kulalui. Aku sebenarnya menyukai hujan. Namun suasana paska hujan kadang bahkan lebih sering menggangguku. Tanah becek, genangan air, lumpur menggumpal dan cipratannya yang mengotori kendaraan dan sepatuku, semuanya seperti kumpulan makhluk-makhluk jahat yang berkerumun di sekitarku. Mereka seperti berebutan mencoba menarik perhatianku, dengan tujuan hanya untuk memecah konsentrasiku. Dalam hal itu, sepertinya mereka berhasil. Aku dibuat kesal oleh hal tak penting itu sepanjang hari. Well, mungkin agak lebay kelihatanñya. Tapi suasana muram habis hujan ini benar-benar membuyarkan pikiranku.
Kami sekarang tinggal di sebuah tempat baru untuk sementara waktu, mungkin untuk beberapa bulan ke depan. Kerjaanku sekarang adalah menterjemahkan naskah dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Aku minta tolong Ariel dan teman-temanku yang lain untuk mempromosikan keahlianku ini kepada kolega atau relasi mereka. Sejauh ini tawaran yang datang cukup banyak. Aku punya penghasilan yang bisa kuandalkan sehingga tak perlu bergantung sepenuhnya kepada Sasha. Sekalipun dia punya cukup banyak tabungan selama ratusan tahun, bukan berarti aku secara finansial sepenuhnya bergantung kepadanya kan?
Tak terasa tahun 2009 sudah di pengujung hidupnya. Samar aku lihat pohon natal gemerlap di balik tirai jendela tetangga depan rumahku. Natal ini adalah Natal kedua tanpa oma. Sasha beberapa hari yang lalu bertanya kepadaku, mengapa aku tidak memasang pohon Natal seperti tahun lalu? Aku menggelengkan kepala dan berkata kepadanya bahwa pohon Natal mengingatkanku kepada beliau. Harumnya fruitcake dan ginger cookie, lezatnya aroma ayam kalkun yang selalu ia masak tiap Natal tak pernah lepas dari ingatanku. Tahun lalu aku merayakan Natal bersama Ariel, Flora, om dan tante, sehingga kesendirianku agak terobati. Tahun ini aku jauh dari mereka sehingga kerinduanku kepadanya muncul lagi tanpa kusadari. Sasha terdiam mendengar perkataanku. Tahun ini aku sudah memutuskan untuk tak merayakan Natal.
Tak terasa malam hampir jam dua belas. Sasha harusnya sudah datang. Aku mendengar suara gemerisik daun. Itu dia orang yang kutunggu datang. Ia tersenyum manis padaku. Aku segera memeluknya,
“How’s the meal today?”
“Well, nothing unusual, two pints of blood, type O, nothing’s special really.”
“Sounds boring.”
“Yea it is. What about you? Don’t you feel cold sitting here at this hour by yourself?”
“Not without you.” aku nyengir dan masih melekat padanya. Sasha tertawa mendengar perkataanku,
“Hey. you make it up. Since when I suddenly become warmer than the air? Come on..” Ia mengusapkan pipinya yang dingin ke wajahku seperti kain mengusap meja. Aku berteriak kedìnginan, kulitku merinding tersentuh oleh kulitnya yang dingin,
“Ouch! It’s freezing you know!” aku berusaha melepaskan diri darinya namun ia tak mau melepaskan pegangannya dan tetap berusaha menempelkan wajahnya kepadaku sambil tertawa melihat kepanikanku,
“I won’t let you go unless you be honest to me, how could I feel like human?” Aku menjawabnya sambil panik,
“It’s true, it’s not something physical, it’s about this.” Aku menunjukkan tanganku ke arah dadaku. Sasha terhenti.
“No matter how it feels outside, as long as I have you here, I feel warmth coming inside.” Sasha membelai wajahku, ia memandangku lamaaa sekali. Setelah terdiam sekian lama, ia berkata,
“Really? Is it that great so you can feel that way?”
“That’s how I feel about you Sasha.” Jari-jarinya menyentuh bibirku, terasa dingin bagai es,
“Something I haven’t felt… in any decades… ” Sasha memelukku. Tubuhnya yang dingin menembus sweaterku. Aku tak pedulikan itu dan tetap memeluknya.
“I feel that too.” Ia lalu membisikkan sebuah kalimat di telingaku,
“Szeretlek” dan menciumku. Bibirnya dingin menyentuh bibirku. Aku berbisik dan memandangnya tanpa berkedip,
“I love you, always…”
Aku mencintamu Sasha, sampai kapanpun…

