h1

Tak Kukenal

Juni 19, 2010

Dearest diary,
Ilya memulihkan lukanya satu minggu setelah kejadian itu. Lukanya cukup gawat, membuatnya tak dapat berjalan dan ia hanya bisa terbaring selama satu minggu itu. Selama itu aku merawatnya. Aku memberinya makan secara teratur. Untuk itu aku harus membeli suplai darah dari Palang Merah dengan surat referensi dari dokter yang waktu itu memeriksanya. Jika suplai habis, aku kadang harus membeli ayam sebagai pengganti suplai ‘bahan mentah’nya itu. Dalam sakitnya Ilya mengulangi janjinya untuk tidak akan melukaiku dan melakukan hal-hal yang nakal kepadaku di masa depan. Pikirku, lihat saja apa yang terjadi nanti jika ia sembuh, akankah ia menepati janjinya atau tidak.

Aku ingat kejadian hari ketiga setelah aku urung meninggalkannya. Pagi itu Ilya bangun setelah satu hari penuh pingsan. Aku masih berada di kamarku ketika kudengar suaranya dari kamar sebelah. Aku pergi ke sebelah dan mendapati Ilya sedang berusaha bangkit dari tidurnya. Ia berusaha keras dan tampaknya gagal.

“Good morning.” Jujur aku tak tahu harus berkata apa kepada orang itu. Ia menoleh ke arahku,
“Oh, good morning. I’m glad you’re here.” Ia mengangkat tangannya ke arahku, katanya,
“Would you please help me to get up?” Aku meraih tangannya yang terulur. Kucoba mengangkat tubuhnya, namun badannya tak bergeming sedikitpun. Akhirnya aku menyerah. Aku jatuh terduduk di sampingnya.
“I can’t help you. You are so heavy. Sorry.” Ilya kelihatan kecewa. Ia lalu berkata,
“Come closer.” Aku menggeser badanku mendekatinya. Ilya menggeser badannya dan memegang tubuhku erat.
“I can’t sleep here all day. Please help me get out of this bed. Get up now.” Aku berusaha bangkit, Ilya menggantungkan tangannya pada tubuhku. Ia terangkat sedikit. Aku berusaha bangkit dan berjalan perlahan sambil menyeret tubuhnya yang berat. Perlahan aku membawanya keluar kamar. Ilya terdengar menggumam kesakitan. Ia minta balik ke tempat tidur. Ilya berbaring kembali di tempat tidur. Kuperiksa lukanya, darah mengalir dengan derasnya dari luka yang semula telah kering. Sepertinya jaringan yang telah beku beberapa hari yang lalu kembali robek akibat gerakan tubuhnya yang terlalu banyak.
“You’re bleeding again.”
“I hate this!” Ilya tampak kesal sendiri. Aku mengambil peralatan P3K dan mengganti perbannya yang lama. Ilya diam sambil memperhatikan aku menggunting perban dan menempelkannya ke lukanya. Setelah selesai, aku beranjak dari dudukku. Ilya memegang tanganku dan berkata,
“Thank you.”
“It’s okay. Take some rest now.” Ilya menggelengkan kepalanya,
“I don’t want to. I’m so bored here. Please stay.” Ilya menatapku dengan pandangan memohon. Aku tak tega melihatnya tak berdaya seperti itu.
“Okay.” Aku mengambil beberapa buku dan mulai duduk manis di sebelahnya.
“Why don’t you read the book for me?” Aku melihatnya dengan pandangan heran.
“It’s a girl’s novel and in Indonesian…”
“Translate it for me, please…”
“Well…”
“You can, I know that. It’s just a matter of willingness or not.”
“Well… okay.”
Aku tak tahu apakah ia suka atau tidak. Mungkin ia tak punya terlalu banyak pilihan juga. Kadang ia tersenyum pada saat aku membacakan bagian-bagian yang lucu. Kelihatannya ia cukup menikmati ceritanya. Selesai membaca, kulihat Ilya sudah terlelap.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.