h1

Pergi Selamanya

Juni 12, 2010

Siang itu, aku sudah memutuskan untuk pergi diam-diam, meninggalkan tempat itu dan meninggalkan Ilya. Aku tak mau berurusan dengan tempat itu, dengan Sasha ataupun yang lainnya. Aku mau pulang ke rumahku dan melupakan semua ini. Aku sudah capek dengan keadaanku ini. Cukup sudah keanehan dan kekacauan ini buatku. Aku ingin membuat lembaran baru dalam hidupku. Saat akan pergì,kulihat Ilya sedang tidur dengan nyenyaknya. Pagi ini aku sudah berikan dua kantong darah untuknya. Kuamati ia baik-baik, Ilya tampak pulas karena kekenyangan. Aku membuka pintu rumah perlahan, berharap Ilya tak mendengar suara pintu dibuka. Belum selesai aku membuka pintu, Ilya sudah berada di sampingku memegangi pintu.
"Don’t." Tangannya menggenggam tanganku dengan erat.
"Please don’t leave me…" Ilya memandangku dengan pandangan memohon. Tiba-tiba ia menunduk seperti mau jatuh lalu mengerang kesakitan. Ilya mulai roboh, aku buru-buru menyongsong tubuhnya yang sudah mulai condong dan menopangnya supaya tak jatuh. Aku lalu memapah Ilya, lebih tepatnya setengah menyeret dia, kembali ke kamarnya. Susah payah aku baringkan Ilya di tempat tidur. Aku melihat perban yang membalut luka-lukanya, perban-perban tersebut memerah. Ia mengalami pendarahan lagi.
Aku mulai panik. Yang terpikir saat itu adalah memanggil seorang dokter untuk menjahit luka Ilya. Aku lalu berhasil memanggil seorang dokter dari sebuah klinik. Dokter itu berhasil "kupaksa" datang. Pada saat datang ia tampak heran dengan kondisi rumahku yang gelap gulita. Aku langsung mengantarnya ke tempat Ilya. Ia segera memeriksa luka Ilya. Aku berharap tak ada hal terlalu aneh yang membuatnya curiga. Dokter itu memeriksa Ilya lalu memandangku dengan heran. Katanya,
"Wah, orang ini kena hipotermia, suhu badannya rendah sekali. Dia harus segera dibawa ke rumah sakit." Aku tak menggubris perkataannya, langsung memindahkan topik,
"Lukanya bagaimana dok?" Dokter itu mulai membuka perban dan memeriksa luka-luka tersebut. Darah mengalir darah dari lubang luka yang menganga,
"Hmm.. lukanya harus dijahit untuk menghentikan pendarahan ini. Saya akan bius lokal dulu supaya tidak terasa sakit." Dokter itu mengambil alat suntik dan mulai menyuntikkan obat bius ke lokasì sekitar luka. Aku tak tahu apakah obat itu ada efeknya terhadap Ilya. Dokter lalu menjahit luka-luka tersebut satu per satu.

Selesai menjahit, dokter tersebut menarikku ke luar kamar dan berkata kepadaku,
"Bu, kondisi teman ibu sudah tak terlalu bagus. Suhu badannya rendah sekali dan detak jantungnya lemah sekali." Ia menelan ludahnya dan melanjutkan perkataanya,
"Secara medis, dia harusnya sudah meninggal. Tetapi entah kenapa ada yang membuatnya tetap hidup. Aku sarankan ibu bawa dia ke rumah sakit secepatnya. Selama belum ke rumah sakit, sebaiknya ibu hangatkan suhu kamarnya supaya kondisi teman ibu tetap stabìl. Ini resep untuk mencegah infeksi." Dia menulis sebuah resep dan memberikannya kepadaku. Aku menganggukkan kepalaku,
"Baiklah dokter."
Aku tak berbicara lebih banyak lagi dan langsung mengantar dokter tersebut ke pintu. Aku memberinya uang lebih banyak dari yang ia minta.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.