
Air Mata di Keheningan
Mei 10, 2010Aku menyeret Ilya masuk kembali ke dalam gua. Tubuhnya yang hampir dua meter itu membuatku susah payah menyeretnya masuk. Aku menaruh Ilya di tempat bekas aku ditahan. Gua itu gelap sekali, aku tak dapat melihat apa-apa, bahkan tanganku sendiri. Oh tidak, pikirku, aku harus berusaha keras menangani luka Ilya di dalam gelap!
Ilya menggapai tanganku, berusaha berbicara di antara erangannya,
“Please take off my shirt. Plug the arrows from my body…” Aku melepaskan kemejanya, dan mulai meraba anak panah yang ada di tubuhnya. Aku menemukan satu anak panah di dadanya dan segera mencabutnya. Ilya menjerit kesakitan. Kurasakan cairan membasahi di tanganku, cairan itu adalah darah yang mengalir dari lukanya. Aku mulai merasa mual. Luka tersebut buru-buru kututup dengan sobekan kemejanya. Panah pertama berhasil tercabut. Panah kedua, dan akhirnya yang ketiga berhasil aku cabut. Setelah itu aku mulai membalut luka-luka itu dengan bajunya. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi denganku. Kurasakan seluruh tanganku basah. Basah oleh darah yang mengalir dari luka Ilya. Tak tahan lagi aku berlari keluar gua dan mulai muntah. Di luar, hujan masih turun dengan derasnya. Di antara cahaya kilat, aku melihat dengan horor, seluruh tangan dan bajuku merah oleh darah… Aku lalu jatuh terduduk dan menangis…
Merasa agak baikan, aku kembali ke dalam gua. Ilya tampak tertidur dengan tenang. Aku memeriksa keadaannya. Keringat mengalir deras dari tubuhnya. Aku mencoba menyeka keringat di wajahnya. Ilya membuka matanya dan memegang tanganku,
“Thank you…” Ia lalu tertidur. Aku lalu mencari tempat yang agak nyaman untuk diriku dan mencoba tidur namun tak bisa. Bayangan Sasha yang menerjang jurang bersama pemburu itu masih terpatri di benakku. Air mata terus mengalir membasahi wajahku…
