h1

Lorong Tak Bernama

April 17, 2010

Dear Diary,

Satu minggu berlalu, aku masih belum bisa melupakan Sasha. Aku merasa masih belum pulih benar dari kejadian bulan Januari lalu. Aku ingat benar kejadian waktu itu. Kami berdua (aku dan Sasha) berhasil melarikan diri dari si pemburu setelah kejadian menjelang Natal tahun lalu. Kami pergi ke arah Timur dan bersembunyi di sebuah kota kecil tak jauh dari Semarang. Kota tersebut berudara sejuk dan memiliki perguruan tinggi yang cukup terkenal di Indo. Kami memilih kota tersebut karena di situ banyak orang bule tinggal di situ untuk belajar, dengan demikian kehadiran Sasha tidak terlalu menyolok jadinya. Kami tinggal dengan aman di situ selama dua minggu sampai kemudian peristiwa itu terjadi.

Di suatu pagi yang cukup cerah, aku sedang berjalan seorang diri menuju pasar tradisional yang lokasinya tak jauh dari tempat tinggal kami. Kami menemukan sebuah rumah mungil yang letakknya agak sedikit di pinggiran kota. Rumah itu tak terlalu besar, hanya memiliki dua buah kamar tidur. Supaya Sasha bisa tinggal di situ selama siang hari, kami menutupi semua kaca dengan karton hitam sehingga sinar matahari tidak bisa masuk ke dalam rumah. Satu-satunya jendela yang tak tertutup karton hitam adalah jendela kamarku. Aku minta Sasha untuk tidak menutupi jendela itu karena jendela itu menghadap arah Timur. Dengan demikian setiap pagi aku bisa menikmati cahaya matahari masuk dan menyinari kamarku itu.

Saat itu aku hendak menyeberang jalan ketika tiba-tiba seseorang mencekal lenganku dengan erat. Aku sangat terkejut dan melihat ke arah orang itu.

“Kau!”

Ternyata si pemburu itu! Pemburu itu menarikku dengan cepat dan menyeretku masuk ke sebuah lorong yang sepi. Aku berusaha mengambil pisauku (aku selalu membawa pisau atas saran Sasha) namun ia memukul tanganku dengan keras sehingga pisau itu terjatuh. Aku berusaha memukulnya dengan tanganku, tapi pemburu itu berhasil menangkap kedua tanganku lalu mencengkeramnya. Ia mendorongku ke aspal. Aku terjatuh. Aku lalu hendak menjerit namun ia menutup mulutku,

“Diam kau jangan bergerak lagi!” sebilah belati melekat di leherku. Aku terdiam dan gemetar merasakan dinginnya belati itu di kulit leherku. Ia lalu mengambil sebuah kain dari sakunya dan menempelkannya ke hidungku. Aku lalu tak sadarkan diri…

2 komentar

  1. wah…
    sudah ganti penampilan ya mbak. tp ko update ceritanya lama benget


  2. Trus…setelah nggak sadarkan diri diapain sama si pemburu??



Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.