
Seseorang di Keramaian
Desember 13, 2009Halo lagi..
Hari ini aku berencana akan keluar jalan-jalan. Sudah lama sekali aku tidak keluar rumah entah itu cuma ke mal atau bahkan ke toko terdekat sekalipun. Sudah lama aku ingin melakukan kegiatan simpel seperti itu seperti orang-orang normal lainnya. Aku butuh menikmati udara terbuka dan berìnteraksi dengan manusia lainnya.
Aku berencana pergi ke tempat yang tak terlalu ramai dan tak cukup beragam pengunjungnya seperti supermarket misalnya. Mal atau taman terlalu luas, akan sulit bagiku mengontrol lingkungan di sekitarku. Hanya saja, supermarket tempatnya tertutup, sedangkan aku ingin berjalan-jalan di tempat terbuka. Setelah browsing tempat-tempat asik, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke sebuah bazaar. Tempat adanya bazaar itu tidak terlalu jauh dari tempat aku tinggal sehingga aku abisa pergi dengan berjalan kaki.
Aku datang satu jam sebelum bazaar tutup. Aku memperhitungkan berkurangnya pengunjung yang akan datang saat tempat itu akan tutup sehingga orang-orang yang datang bisa terkontrol jumlahnya.
Bazaar tersebut menjual makanan, pakaian dan berbagai pernak pernik rumah. Ada sebuah stand yang menjual lampu-lampu lucu. Di sebelah stand lampu ada stand asesoris cukup unik. Yang menjaga stand tersebut seorang gadis berumur dua puluhan.
“Ayo mbak coba kalung ini.” Ia mengambil sebuah kalung dan menawarkannya kepadaku. Kalung itu terbuat dari kuningan, berukuran cukup panjang dengan batu-batu berwarna torquise dan oranye sebagai aksennya. Sebuah kombinasi yang berani. Tak ada salahnya jika aku mencoba. Aku lalu meraih kalung dan mulai mencobanya di depan cermin. Selesai memasang kalung aku menengadahkan kepalaku di depan cermin. Sedang aku memperhatikan kalung, tiba-tiba kulihat pada refleksi kaca seseorang berbaju hitam nampak berdiri memperhatikan aku. Aku terkesiap dan langsung membalikkan badan mencoba melihat orang itu. Orang itu sudah tak ada. Jantung berdegup kencang. Aku merasa tak aman dan buru-buru pulang. Di pintu gerbang, sepintas bayangan bergerak di sudut mataku. Aku menoleh ke arah itu. Tak ada siapa-siapa. Keringat dingin mulai membasahiku. Perawakan orang itu mirip si pemburu itu. Bodohnya aku pergi seperti ini. Harusnya aku menuruti anjuran Sasha untuk tidak terburu-buru ingin pergi berjalan-jalan.
Tiba ada yang mencengkeram tanganku. Aku hampir berteriak karena kaget,
“Sasha! What are you doing here?”
“Let’s go!” Kulit Sasha merona merah hampir terbakar. Ia kelihatannya tergesa-gesa keluar rumah dengan UV gel seadanya. Sasha menarikku masuk ke dalam sebuah sudut yang tak nampak dari luar. Ia memberi tanda kepadaku untuk diam. Sasha berdiri tak jauh dariku mengawasi keadaan. Kami berdiam diri di situ cukup lama, sampai tempat itu agak sepi. Aku begitu tegangnya sampai hampir tak bisa bernafas.
“Come on!” Sasha menarikku cepat-cepat pergi dari tempat itu. Aku masih terdiam.
“He’s here. Isn’t he.” Sasha menganggukkan kepalanya.
“It’s not safe in here anymore.”
Malam itu juga kami pergi meninggalkan kota itu, rumah itu dan pohon natalku…
