Dear diary,
Setelah kejadian itu aku jadian lagi dengan Sasha. Kejadian di Bandung yang terakhir kali membuatku sadar, bahwa dalam hatiku aku masih mencintainya. Sekalipun untuk itu nyawaku bisa jadi taruhannya. Pulang dari rumah sakit Sasha memelukku dan aku hanya bisa menumpahkan seluruh perasaanku terhadapnya. Aku tak dapat menyangkal hatiku lagi di hadapannya. Aku bisa saja berbohong dengan berkata aku tak mencintainya. Tapi aku tak mau hidup dalam kebohongan.
Aku masih ingat saat tangannya membelai rambutku dengan lembut. Tak kupersoalkan lagi jarinya yang terasa dingin itu. Yang ku rasa hanyalah kedamaian saat ia menyentuh wajahku dan mengusapku lembut. Tak kupersoalkan lagi perbedaan di antara kami. Yang ku inginkan hanyalah dia ada di dekatku dan tak pergi lagi selamanya. Suatu keinginan yang tak mungkin terwujud.
“Promise me you won’t ask me to leave you again?” Aku menganggukkan kepalaku.
“Sasha, where we’re going to from here?” Sasha mengusap pipiku lembut dan hanya menggelengkan kepalanya. Ia mempererat pelukannya. Tarikan nafasnya terdengar berat di bahuku.
“I wish I have a plan…” Sasha berkata lirih…
“Convert me, to be your kind…” Aku mencengkeram lengannya.
“No, I won’t…”
“Why?”
“I’d prefer to be human in the first place.” Aku memandangnya dengan tak percaya. Ia berkata lagi,
“I haven’t given any choice. Ilya made me like this…”
“You’ve never accepted yourself?” Sasha menggelengkan kepalanya.
“Is there any plan that could change you at least? To make you become a human again?” Sasha menggelengkan kepalanya.
“There is no reversed way. I’ll die if I became human again. My mortal body couldn’t stand the aging process.” Sasha mengusap rambutku. Aku terdiam.
“It’s okay. I’ll always be by your side. I’ll guard you when your sleep.”
(song: “Bukan Cinta Biasa” – Afgan)
