
Hanya Untukmu
Mei 1, 2009
Hai diary,
Ini adalah peristiwa yang tak pernah kulupakan. Saat aku melakukan ini semua untuk Sasha. Waktu itu aku ngeri sekali mendengar Sasha membenarkan apa yang menjadi pikirkanku. Walaupun begitu, membayangkan ia berubah menjadi makhluk buas yang tak dapat mengenaliku lagi adalah hal yang lebih menakutkan lagi. Tekadku adalah membuat ia tetap sadar. Aku harus melakukan segala cara untuk mengobati dehidrasinya itu.
Aku mengusap rambut Sasha perlahan. Rambutnya terasa lembab. Butir-butir keringat mengalir pada wajahnya. Ia tak berani melihatku.
“Drink my blood now.” Aku meraih kepalanya. Sasha menggelengkan kepalanya.
“No, it’s not even an option. I’ve made a promise not to drink your blood anymore.”
“Break the promise only for this time. Just for me. For your own good. Please…” Aku mengangkat wajahnya. Ia nampak susah sekali lalu menggelengkan kepalanya lagi.
“I can’t. Tie me now.”
“You can Sasha. Please, do it for me… I won’t let you changed into that some kind of beast…” Aku mendekatkan diriku padanya. Sasha diam tak bergerak. Badannya mulai menggigil dengan hebatnya
“Please do it. Just for me.” Aku berbisik kepadanya. Sasha memandangku, ia masih ragu.
“I can’t hurt you Julie. Don’t push me.”
“Only for this time.” Sasha mulai bergerak. Kelihatannya ia tak punya banyak pilihan. Ia mendekat kepadaku dan membelai wajahku.
“The quickest way is to take it from the largest artery, which means the one that placed in your throat. It’s going to be very painful. I have to take more than two pints of your blood. Are you sure you wanna keep doing this?” Aku menganggukkan kepalaku dengan tegas. Sasha mengambil kedua tanganku dan melingkarkannya pada tubuhnya. Katanya,
“Hold me, or hit me if you can’t stand the pain.” Aku menggigil dalam hatiku namun tetap memberanikan diriku,
“I’ll be okay…” Sasha menundukkan kepalanya
“I’ll try to make you relax and reduce the pain as much as I can…”
Tiba-tiba Sasha terdiam dan meggelengkan kepalanya,
“I can’t do this…” Ia mendorong tubuhku perlahan. Aku mempererat dekapanku,
“You can. You have to do this. Please…” Sasha terdiam sejenak, lalu mulai mendekatiku lagi. Kali ini ia terlihat lebih yakin.
“I’m sorry Julie…” Ia berbisik di telingaku. Aku merinding saat bibirnya menyentuh telingaku. Sasha membelaiku dan mulai mencium bibirku dengan lembut. Ia terus menciumku. Bibirnya perlahan meluncur di leherku hingga ke pangkalnya. Aku menahan nafasku.
“Hangin there…” Sasha berbisik lembut. Tiba-tiba aku merasakan tusukan yang tajam pada leherku. Dua buah benda tajam menembus nadiku bagai belati. Kurasakan tajamnya taring mulai mengiris kulitku perlahan.
“Sasha!” Aku mengerang kesakitan. Tanganku memegang lengan Sasha erat-erat. Jari-jariku mencengkeram kulitnya. Sakit yang tak tertahan membuatku ingin berontak dan melepaskan diri darinya.
“Sasha! It hurts!” Sasha tak menghiraukan teriakanku. Ia mendekapku dan terus menancapkan taringnya pada pangkal leherku. Tiba-tiba aku merasa menyesal memaksa Sasha melakukan ini. Air mata membasahi pipiku. Sasha membelai rambutku dan mempererat pegangannya. Jarinya menyeka air mataku perlahan. Sasha meneguk darahku seperti seorang anak yang sedang melepas dahaga… Nafasnya mulai terdengar teratur. Sakit itu terus berlangsung cukup lama, aku tak ingat lagi berapa lama. Pandanganku makin lama makin gelap hingga akhirnya aku tak bisa melihat sama sekali…
(Song: “Ambil Jiwaku” – Derby)