Arsip untuk Mei, 2009

h1

Soulmate

Mei 19, 2009

Dear diary,

Setelah kejadian itu aku jadian lagi dengan Sasha. Kejadian di Bandung yang terakhir kali membuatku sadar, bahwa dalam hatiku aku masih mencintainya. Sekalipun untuk itu nyawaku bisa jadi taruhannya. Pulang dari rumah sakit Sasha memelukku dan aku hanya bisa menumpahkan seluruh perasaanku terhadapnya. Aku tak dapat menyangkal hatiku lagi di hadapannya. Aku bisa saja berbohong dengan berkata aku tak mencintainya. Tapi aku tak mau hidup dalam kebohongan.

Aku masih ingat saat tangannya membelai rambutku dengan lembut. Tak kupersoalkan lagi jarinya yang terasa dingin itu. Yang ku rasa hanyalah kedamaian saat ia menyentuh wajahku dan mengusapku lembut. Tak kupersoalkan lagi perbedaan di antara kami. Yang ku inginkan hanyalah dia ada di dekatku dan tak pergi lagi selamanya. Suatu keinginan yang tak mungkin terwujud.

“Promise me you won’t ask me to leave you again?” Aku menganggukkan kepalaku.

“Sasha, where we’re going to from here?” Sasha mengusap pipiku lembut dan hanya menggelengkan kepalanya. Ia mempererat pelukannya. Tarikan nafasnya terdengar berat di bahuku.

“I wish I have a plan…” Sasha berkata lirih…

“Convert me, to be your kind…” Aku mencengkeram lengannya.

“No, I won’t…”

“Why?”

“I’d prefer to be human in the first place.” Aku memandangnya dengan tak percaya. Ia berkata lagi,

“I haven’t given any choice. Ilya made me like this…”

“You’ve never accepted yourself?” Sasha menggelengkan kepalanya.

“Is there any plan that could change you at least? To make you become a human again?” Sasha menggelengkan kepalanya.

“There is no reversed way. I’ll die if I became human again. My mortal body couldn’t stand the aging process.” Sasha mengusap rambutku. Aku terdiam.

“It’s okay. I’ll always be by your side. I’ll guard you when your sleep.”


(song: “Bukan Cinta Biasa” – Afgan)

h1

Senyum di Pagi Hari

Mei 17, 2009

Hai diary,

Aku ingat saat itu aku terbangun di sebuah ruangan rumah sakit. Hari masih pagi, matahari pagi bersinar menembus tirai-tirai ruangan tempat aku terbaring. Rasanya aku mengenal rumah sakit ini. Aku menggerakkan kepalaku.

“Sasha?” aku mencoba mengangkat kepalaku, rasa nyeri menyengat leherku. Perlahan-lahan aku mulai ingat, Sasha ada bersamaku dan ia mengambil darahku!

“Kau sudah bangun?” Tiba-tiba Ariel muncul di hadapanku. Ia tersenyum dan mengusap rambutku. Aku melihat ke sekelilingku, ada Flora tak jauh dari Ariel. Ia bergegas mendekatiku,

“Kakak, apa kabar?” Flora nyengir dengan senyumannya yang khas itu.

“Sasha di mana? Berapa lama aku di sini?” Aku memegang tangan Ariel. Tanganku tak dapat bergerak dengan leluasa, ada jarum infus dan transfusi pada kedua belah tanganku.

“Sasha ada kok, jangan panik gitu dong.” Ariel lalu memanggil Sasha.

Kulihat seseorang memasuki ruangan. Sasha! Ia tampak sehat dan wajahnya agak khawatir. Ariel dan Flora segera keluar ruangan memberi kami privacy. Sasha langsung memelukku.

“Sasha!” Sasha menciumku lembut.

“Are you okay?” Ia menganggukkan kepalanya.

“I’m sorry you have to do this…” Sasha tampak sedih. Aku menggelengkan kepalaku.

“Don’t say that.” Aku tersenyum dan mengusap rambutnya. Aku ingin bisa melihatnya bertahan dalam hidupnya. Sasha lalu bercerita tentang kejadian setelah ia meminum darahku itu.

Setelah ia minum lebih dari dua liter darahku, aku jatuh pingsan. Sasha kemudian bergegas membawaku ke rumah sakit. Dengan mengarang cerita tentang kejadian yang menimpaku, aku segera di rawat di ruang gawat darurat. Dokter segera memberikan tranfusi darah karena aku kehilangan cukup banyak darah. Sasha segera menelpon Ariel dan menjelaskan apa yang terjadi dengan diriku. Ariel dan Flora lalu segera berangkat ke Bandung untuk mengurus aku.

Yang kuingat, Ariel cukup tak senang dengan Sasha. Ia terlihat agak menahan dirinya karena aku masih sakit. Ketika aku keluar dari rumah sakit, aku masih merasakan ‘aura’ tak senang muncul dari Ariel. Ia tak bicara banyak, namun sebelum aku meninggalkan rumah sakit aku melihat ia berbicara serius dengan Sasha. Mudah-mudahan tak ada yang perlu lecet-lecet gara-gara urusan mereka.

(song: “God Only Knows” – Prisa)