Sasha mengendarai mobil seperti orang dikejar setan (memang dikejar betulan sih).
“Are you okay Julie?” Ia melihat sekilas ke arahku melihatku membetulkan pakaianku. Aku menganggukkan kepalaku. Sasha memegang bahuku.
“We should take rest for a while. I know a save place for us.” Ia mengusap pipiku dengan lembut. Kami sampai di sebuah gua beberapa bukit dari tempat kejadian. Sepertinya gua itu adalah gua peninggalan Jepang, ada sebuah rel kereta terhampar dekat pintu gua. Sasha meletakanku di salah satu sudut gua. Ia lalu menyalakan sebuah lampu minyak. Suasana mulai terlihat saat lampu mulai dinyalakan. Gua itu tak secreepy yang aku sangka. Pengaturan isinya sangat cozy. Ada sebuah meja makan kecil di tengah gua, dengan empat buah kursi di sekelilingnya. Sebuah lemari kecil terletak di sudut gua ini. Tempatku duduk ternyata adalah sebuah kasur besar yang diletakkan di atas batu gua. Nampaknya ada relung cukup besar untuk menaruh sebuah kasur di situ sehingga bisa berfungsi sebagai tempat tidur atau istirahat.
Sasha memandangku. Ia tampak normal, tak ada tanda-tanda wajahnya pernah berubah sebelumnya. Hanya ada beberapa goresan pada wajah dan tangannya, dan darah kering di sudut mulutnya. Sasha menunjuk ke sekitarnya,
“Welcome to my sanctuary. I live here since Ilya escaped from Hungary.” Tiba-tiba ia terdiam sebentar lalu bertanya,
“How are you doing my love?” Ia membelaiku.
“Anything hurt?” Aku menggelengkan kepalaku.
“I’m sorry…I should have listened to you…” Aku berkata dengan lirih.
“It’s okay. You are safe now. That’s the most important…” Sasha memelukku dengan erat,
“I miss you Julie…” Tiba-tiba Sasha terbatuk dan meringis kesakitan. Aku melepas pelukanku dan memegang pakaianku. Pakaianku terasa basah. Kulihat ke bawah, pakaianku penuh dengan darah! Aku memandang Sasha dengan pandangan horor. Sasha tampak memegangi perutnya. Aku menyibak bajunya, luka besar menganga di perutnya.
“Sasha! What happened?” Sasha memandangku dengan kesakitan, ia memegang tanganku dan berkata,
“He has a silver knife. That bastard has cut me…” Aku memandang Sasha dengan pandangan cemas.
“Are you gonna die Sasha?” Aku mulai menangis. Sasha membelai wajahku,
“It’s okay, I’ll be fine. It will be healed in a few second.” Aku memandang luka itu. Benar seperti yang ia katakan, lukanya itu perlahan-lahan menutup dengan sendirinya… Aku memandang Sasha dengan pandangan takjub. Sasha tersenyum melihatku seperti itu. Wajahnya tiba-tiba terlihat sangat letih.
“What happened?” Aku bertanya kepada Sasha.
“I loose a large amount of blood.”
“Is that bad?” Sasha memandangku dengan sedih,
“Yes.” Ia lalu membuka bajunya dan memberikannya kepadaku.
“I will get dehydrated less than ten minutes and will in deep craving for blood. At that time I’ll loose my mind and will not remember you at all and I will attack you to get some blood. To save your life, you have to tie me up to that pole. And get out here as soon as you finished!”
“No I won’t do that.”
“Why?” Sasha terkejut. Aku memandang Sasha dengan pandangan memohon,
“Is there any way that prevent you from changing like that?” Sasha terdiam lama sekali.
“Answer me Sasha…” Sasha terlihat enggan menjawab pertanyaanku yang satu itu,
“There is an easier way. But I will harm you.” Aku tegang memikirkan sebuah jawaban yang mengerikan.
“What is that? Will it help you a lot?” Sasha menganggukkan kepalanya,
“Yes it will.” Sasha memandangku dengan pandangan tak rela. Ia terlihat sangat tak nyaman.
“There is another way. A quicker way, drinking your blood.” Jantungku terasa berhenti. Apa yang kupikirkan benar! Aku bertanya dengan gentar,
“How much do you need?” Sasha memandangku dengan pandangan ngeri,
“More than two pints*…”
*) donasi darah maksimum adalah 1 pint (= 0.45 kilogram)
