Arsip untuk April 14th, 2009

h1

Wijayakusuma

April 14, 2009

Dear diary,

Setelah pertemuan itu, Elie tak menghubungiku lagi. Tiga hari setelah itu, aku ditugaskan kantor untuk pergi ke Bandung.

Aku memutuskan untuk pergi semalam lebih cepat supaya bisa menginap di rumah oma. Rumah itu sudah cukup lama tak kukunjungi. Terakhir kali ke Bandung aku tak sempat datang ke rumah itu, hanya Ariel yang menyempatkan diri datang untuk mencek. Rumah itu sendiri dirawat dengan baik. Kami menyewa seorang pembantu Ibu Iin dengan suaminya yang bekerja sebagai tukang kebun di sana. Selain mereka ada dua orang sepupu kami yang saat ini kos di paviliun sebelah bangunan utama.

Aku sampai di rumah oma sudah larut malam. Halaman tampak sudah gelap. Bu Iin sudah mematikan lampu teras rupanya. Ia biasa mematikan lampu teras jam sebelas malam. Saat mendekati pintu harum semerbak bunga menyengat hidungku. Kulihat sekuntum bunga Wijayakusuma sedang mekar di sebuah pot tak jauh dari pintu teras. Tiba-tiba suara lonceng jam berdentang. Aku melihat jam tanganku, waktu menunjukkan jam dua belas malam. Kulihat Bu Iin datang tergopoh-gopoh membukakan pintu, matanya sembab kelihatan habis bangun tidur,

“Malam Non, apa kabar? Malam sekali datangnya.”

“Iya, seharusnya aku datang besok pagi. Tapi kupikir apa salahnya istirahat dulu di sini sambil menengok yang di Bandung.” Aku lalu menunjuk bunga Wijayakusuma yang sedang mekar.

“Itu ada bunga Wijayakusuma, siapa yang menanamnya bu?” Bu Iin melongok dengan heran ke arah teras,

“Loh ada bunga ya? Ibu juga baru liat sekarang. Anak-anak mungkin yang beli.” (maksudnya adalah sepupu-sepupuku yang di paviliun).

“Masa sih? Coba besok aku tanya.” Pikirku, sejak kapan anak-anak cowok itu punya taste buat menghias rumah?

Aku lalu masuk kamar oma dan bersiap-siap hendak beristirahat ketika tiba-tiba kudengar ada suara di luar kamar. Sepertinya ada seseorang atau sesuatu di halaman. Aku pergi ke teras untuk melihat apa yang terjadi.

Kulangkahkan kakiku ke teras, tak ada siapa-siapa. Aku membalikkan badanku hendak meninggalkan teras ketika tiba-tiba kurasakan kehadiran seseorang di belakangku. Cepat-cepat aku menoleh ke belakang, benar, seseorang berdiri di halaman tak jauh dari bunga Wijayakusuma.

(Song: “Kala Sang Surya Tenggelam” – Chrisye)