Arsip untuk April, 2009

h1

Secret Sanctuary

April 29, 2009

Sasha mengendarai mobil seperti orang dikejar setan (memang dikejar betulan sih).

“Are you okay Julie?” Ia melihat sekilas ke arahku melihatku membetulkan pakaianku. Aku menganggukkan kepalaku. Sasha memegang bahuku.

“We should take rest for a while. I know a save place for us.” Ia mengusap pipiku dengan lembut. Kami sampai di sebuah gua beberapa bukit dari tempat kejadian. Sepertinya gua itu adalah gua peninggalan Jepang, ada sebuah rel kereta terhampar dekat pintu gua. Sasha meletakanku di salah satu sudut gua. Ia lalu menyalakan sebuah lampu minyak. Suasana mulai terlihat saat lampu mulai dinyalakan. Gua itu tak secreepy yang aku sangka. Pengaturan isinya sangat cozy. Ada sebuah meja makan kecil di tengah gua, dengan empat buah kursi di sekelilingnya. Sebuah lemari kecil terletak di sudut gua ini. Tempatku duduk ternyata adalah sebuah kasur besar yang diletakkan di atas batu gua. Nampaknya ada relung cukup besar untuk menaruh sebuah kasur di situ sehingga bisa berfungsi sebagai tempat tidur atau istirahat.

Sasha memandangku. Ia tampak normal, tak ada tanda-tanda wajahnya pernah berubah sebelumnya. Hanya ada beberapa goresan pada wajah dan tangannya, dan darah kering di sudut mulutnya. Sasha menunjuk ke sekitarnya,

“Welcome to my sanctuary. I live here since Ilya escaped from Hungary.” Tiba-tiba ia terdiam sebentar lalu bertanya,

“How are you doing my love?” Ia membelaiku.

“Anything hurt?” Aku menggelengkan kepalaku.

“I’m sorry…I should have listened to you…” Aku berkata dengan lirih.

“It’s okay. You are safe now. That’s the most important…” Sasha memelukku dengan erat,

“I miss you Julie…” Tiba-tiba Sasha terbatuk dan meringis kesakitan. Aku melepas pelukanku dan memegang pakaianku. Pakaianku terasa basah. Kulihat ke bawah, pakaianku penuh dengan darah! Aku memandang Sasha dengan pandangan horor. Sasha tampak memegangi perutnya. Aku menyibak bajunya, luka besar menganga di perutnya.

“Sasha! What happened?” Sasha memandangku dengan kesakitan, ia memegang tanganku dan berkata,

“He has a silver knife. That bastard has cut me…” Aku memandang Sasha dengan pandangan cemas.

“Are you gonna die Sasha?” Aku mulai menangis. Sasha membelai wajahku,

“It’s okay, I’ll be fine. It will be healed in a few second.” Aku memandang luka itu. Benar seperti yang ia katakan, lukanya itu perlahan-lahan menutup dengan sendirinya… Aku memandang Sasha dengan pandangan takjub. Sasha tersenyum melihatku seperti itu. Wajahnya tiba-tiba terlihat sangat letih.

“What happened?” Aku bertanya kepada Sasha.

“I loose a large amount of blood.”

“Is that bad?” Sasha memandangku dengan sedih,

“Yes.” Ia lalu membuka bajunya dan memberikannya kepadaku.

“I will get dehydrated less than ten minutes and will in deep craving for blood. At that time I’ll loose my mind and will not remember you at all and I will attack you to get some blood. To save your life, you have to tie me up to that pole. And get out here as soon as you finished!”

“No I won’t do that.”

“Why?” Sasha terkejut. Aku memandang Sasha dengan pandangan memohon,

“Is there any way that prevent you from changing like that?” Sasha terdiam lama sekali.

“Answer me Sasha…” Sasha terlihat enggan menjawab pertanyaanku yang satu itu,

“There is an easier way. But I will harm you.” Aku tegang memikirkan sebuah jawaban yang mengerikan.

“What is that? Will it help you a lot?” Sasha menganggukkan kepalanya,

“Yes it will.” Sasha memandangku dengan pandangan tak rela. Ia terlihat sangat tak nyaman.

“There is another way. A quicker way, drinking your blood.” Jantungku terasa berhenti. Apa yang kupikirkan benar! Aku bertanya dengan gentar,

“How much do you need?” Sasha memandangku dengan pandangan ngeri,

“More than two pints*…”

*) donasi darah maksimum adalah 1 pint (= 0.45 kilogram)

h1

Ilyasa

April 27, 2009

Hai diary, aku terusin ya ceritanya….

Elie mengikat tanganku dan menutup mataku sehingga aku tak bisa melihat arah kami pergi. Ia membawaku ke tempat yang cukup jauh dari Bandung. Semula kurasakan mobil meluncur pada jalan yang mulus. Setelah agak lama, sekitar setengah jam mobil tampaknya belok ke kiri dan memasuki sebuah jalan yang tak terlalu bagus. Setelah berjalan dengan terguncang-guncang agak lama mobil berhenti. Elie menarik aku keluar dari mobil. Aku menggigil. Udara di luar terasa sangat dingin. Nampaknya Elie membawa aku ke sebuah tempat yang terletak di kaki gunung. Elie menarik aku yang berjalan dengan susah payah karena harus berjalan dalam keadaan terikat dan tertutup mata.

Kami lalu memasuki sebuah rumah. Rumah itu tampak tak dihuni lagi. Bau jamur dan kayu yang mulai membusuk menusuk hidungku. Elie membawaku masuk lebih dalam lagi ke dalam rumah. Kakiku sebentar-sebentar terperosok masuk ke dalam lantai yang kayu-kayunya mulai rapuh. Sampai di suatu tempat, Elie mendorongku ke sebuah dinding.

“Don’t move.” Aku mulai takut dengan situasi yang tak nyaman itu namun tetap berusaha tenang di hadapan Elie. Ia membuka tutup mataku. Ruangan sangat gelap. Aku tak dapat melihat apa-apa kecuali sebuah sosok di hadapanku, matanya berpendar dalam kegelapan. Sasha benar, Elie bukan manusia. Oh, betapa bodohnya aku.

“Where is the necklace?” Oh, Elie mencari kalung itu.

“I don’t have it now.” Elie tampak kesal.

“Okay. We’ll wait for your boyfriend, Sasha. You’ll deliver his necklace to me and yours too.” Elie menurunkan senjatanya. Aku memberanikan diri berbicara,

“Your real name is not Elie.” Elie menyeringai,

“Now you are getting smarter. You’re right. I’m called Ilyasa or Ilya to be precise.” Elie atau Ilya melanjutkan,

“I’ve been waiting for this moment. To get the pieces together and see him die. And you probably too. Or maybe not…” Ilya mendekatiku.

“Well, suddenly I remember something. Seems I have an unfinished business with you, if I can recall that?” Ia menodongkan senjata ke arahku dan memegang wajahku. Aku berusaha menghindari tetapi tangannya memegangi erat daguku.

“What are you thinking you’re doing? Do you want to escape? Or slap me like before?” Aku mencoba bergerak dan mengelak dirinya namun Ilya mencengkeram tubuhku erat-erat.

“Don’t you think of making any movement.” Ilya menekan tubuhku ke dinding dengan keras. Aku hampir tak dapat bernafas. Ia menyentuh wajahku. Jari-jarinya terasa dingin meluncur di kulitku. Ia mulai mengelus bibirku. Aku menggigil.

“Please don’t.”

“Shut up! I want to enjoy myself before he comes. I will make him suffer more before he die by doing this…” Ia menundukkan kepalanya hendak menciumku. Tiba-tiba Ilya terdorong ke samping. Pistol di tangannya terlempar jauh. Sasha muncul di hadapanku.

“Bastard!” Ilya berusaha meraih senjatanya kembali namun Sasha menerjang Ilya. Ilya mengelak dan berhasil memukul Sasha. Sasha memukul balik Ilya. Sepasang taring tumbuh perlahan pada gigi Ilya. Cakar-cakar yang tajam memanjang pada jari-jari tangan Ilya. Sasha pun demikian. Sepasang taring terhunus pada mulutnya. Pada jari-jari tangannya pun tumbuh cakar-cakar yang tajam. Itu wajah Sasha yang sesungguhnya. Makhluk yang mengerikan.

Mereka berdua mengeluarkan bunyi geraman bagai serigala, saling mencakar dan menggigit. Ilya berusaha mengambil senjatanya kembali dan Sasha berusaha mencegahnya. Ilya mendorong Sasha dan berhasil meraih pistol tersebut. Mereka berdua bertarung untuk bisa menembakkan pistol itu. Ilya tampak payah menghadapi Sasha. Ia terluka lebih banyak dari pada Sasha. Tiba-tiba terdengar tembakan. Aku melihat Ilya terkapar. Sasha perlahan bangkit dan mendekatiku,

“Let’s get out of here!”

“Is he dead?” Sasha mendorong tubuh Ilya dengan kakinya. Ilya tak bergerak. Ia memeriksa nadinya. Sasha tampak senang.

“He’s dead. Let’s move! We don’t have much time!”

Sampai di luar kami mengambil mobil Ilya dan segera pergi dari situ.