Pagi ini aku bangun seperti biasa, pada jam yang sama dengan hari-hari lainnya. Aku lama berbaring mencoba mengumpulkan nyawaku sambil mengamati sinar matahari pagi yang lembut menembus tirai kamar. Mata terasa masih berat. Kucoba melihat ke sekeliling,
“Sasha?”
Ia tak mungkin ada di sini jika sinar matahari sudah masuk seperti itu. Sasha pasti sudah ada di tempat lain, yang tak terjangkau matahari.
“Good morning cookie.” Aku menoleh ke arah datangnya suara,
“Sasha!” Aku tak dapat menyembunyikan kegembiraanku. Sasha mendekat dan memberikan kecupan pagi untukku,
“I stay here today.” Ia menarik tanganku. Katanya lagi,
“Wake up! I want to show you something.”
“What? I’m stil sleepy.” Kutarik tanganku dari genggamannya
“No need to hurry.. right?.” aku membenamkan diriku kembalì ke dalam tumpukan selimut.
“Whatever.” Sasha bangkit dan mulai berjalan meninggalkan ruangan.
“Hey, don’t go, I’m just kidding!” Sasha tetap memunggungiku seakan tak mendengarku. Terpaksa aku bangun dan mengejarnya. Aku baru saja akan protes ketika melihat sesuatu di ruang tengah, sebuah pohon Natal berdiri dengan indahnya di tengah ruangan! Aku tak dapat mempercayai penglihatanku. Sebuah pohon dengan tinggi kira-kira satu setengah meter menjulang dihadapanku. Pohon itu berwarna putih, daun-daunnya seluruhnya berwarna putih dengan hiasan berwarna perak dan biru. Lampu-lampu biru kecil berkerlip menghiasi seluruh pohon. Aku takjub melihat keindahan yang ada di hadapanku. Warna putih dan biru adalah warna kesukaanku! Aku menoleh kepada Sasha,
“And you managed to put all these thing?” Sasha menganggukkan kepalanya,
“When?” aku masih penasaraan,
“When you were sleeping.” Sasha nyengir lebar.
“So you put this tree and decorated it while I was sleeping? Ow, that’s why you told me yesterday to sleep earlier… Means you have more time to prepare… You!” Sasha tertawa melihatku merasa tertipu seperti itu.
“Gotcha! Now you know!” Sasha tertawa puas. Ia mengusap rambutku. Katanya,
“This is my present for you.” Ia memelukku erat.
“Do you know why they choose this tree?” Aku menggelengkan kepalaku, Sasha melanjutkan,
“This kind of tree, the fir tree can stay alive in the winter. Not only that, by staying alive, it also provides a habitat for the wildlife.”
Ia melanjutkan,
” It symbolìzes a life that always endures, never perished, an eternal life, like our love.” Sasha memandangku,
“Julie, I want you to have a new memory about Christmas. A memory you will hold in the future. Something you cherish. Forever.”
“Thank you so much!” Aku membenamkan wajahku ke dalam pelukannya.
Aku melihat ke sekelilingku. Ruangan tengah tampak gelap, Sasha menutup ruangan dengan tirai tebal sehingga sinar matahari tak dapat masuk ke dalam. Dengan begitu ia tak perlu takut terkena sinar matahari jika berada di ruangan ini di siang hari. Sejak saat itu aku tak lagi membuka tirai ruangan dan membiarkan Sasha tinggal di rumah selama matahari bersinar.