h1

September 12, 2000

Nyanyian Padang

~~~~~~ +*+ ~~~~~~

Kuharap ada nyanyian merdu bersenandung di antara angin. Yang melantunkan nada menghibur hati, membuat kaki menari di rerumputan. Tak peduli akan penat, lagu dan tawa tlah menggantikannya. Jika kutemukan nyanyian merdu di padang tak berujung ini, adakah ku berhenti dan turut bernyanyi?

~~~~~~ +*+ ~~~~~~

h1

Seseorang di Keramaian

Desember 13, 2009

Halo lagi..

Hari ini aku berencana akan keluar jalan-jalan. Sudah lama sekali aku tidak keluar rumah entah itu cuma ke mal atau bahkan ke toko terdekat sekalipun. Sudah lama aku ingin melakukan kegiatan simpel seperti itu seperti orang-orang normal lainnya. Aku butuh menikmati udara terbuka dan berìnteraksi dengan manusia lainnya.

Aku berencana pergi ke tempat yang tak terlalu ramai dan tak cukup beragam pengunjungnya seperti supermarket misalnya. Mal atau taman terlalu luas, akan sulit bagiku mengontrol lingkungan di sekitarku. Hanya saja, supermarket tempatnya tertutup, sedangkan aku ingin berjalan-jalan di tempat terbuka. Setelah browsing tempat-tempat asik, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke sebuah bazaar. Tempat adanya bazaar itu tidak terlalu jauh dari tempat aku tinggal sehingga aku abisa pergi dengan berjalan kaki.

Aku datang satu jam sebelum bazaar tutup. Aku memperhitungkan berkurangnya pengunjung yang akan datang saat tempat itu akan tutup sehingga orang-orang yang datang bisa terkontrol jumlahnya.

Bazaar tersebut menjual makanan, pakaian dan berbagai pernak pernik rumah. Ada sebuah stand yang menjual lampu-lampu lucu. Di sebelah stand lampu ada stand asesoris cukup unik. Yang menjaga stand tersebut seorang gadis berumur dua puluhan.

“Ayo mbak coba kalung ini.” Ia mengambil sebuah kalung dan menawarkannya kepadaku. Kalung itu terbuat dari kuningan, berukuran cukup panjang dengan batu-batu berwarna torquise dan oranye sebagai aksennya. Sebuah kombinasi yang berani. Tak ada salahnya jika aku mencoba. Aku lalu meraih kalung dan mulai mencobanya di depan cermin. Selesai memasang kalung aku menengadahkan kepalaku di depan cermin. Sedang aku memperhatikan kalung, tiba-tiba kulihat pada refleksi kaca seseorang berbaju hitam nampak berdiri memperhatikan aku. Aku terkesiap dan langsung membalikkan badan mencoba melihat orang itu. Orang itu sudah tak ada. Jantung berdegup kencang. Aku merasa tak aman dan buru-buru pulang. Di pintu gerbang, sepintas bayangan bergerak di sudut mataku. Aku menoleh ke arah itu. Tak ada siapa-siapa. Keringat dingin mulai membasahiku. Perawakan orang itu mirip si pemburu. Bodohnya aku pergi seperti ini. Harusnya aku menuruti anjuran Sasha untuk tidak terburu-buru ingin pergi berjalan-jalan.

Tiba ada yang mencengkeram tanganku. Aku hampir berteriak karena terkejut,

“Sasha! What are you doing here?”

“Let’s go!” Kulit Sasha merona merah hampir terbakar. Ia kelihatannya tergesa-gesa keluar rumah dengan UV gel seadanya. Sasha menarikku masuk ke dalam sebuah sudut yang tak nampak dari luar. Ia memberi tanda kepadaku untuk diam. Sasha berdiri tak jauh dariku mengawasi keadaan. Kami berdiam diri di situ cukup lama, sampai tempat itu agak sepi. Aku begitu tegangnya sampai hampir tak bisa bernafas.

“Come on!” Sasha menarikku cepat-cepat pergi dari tempat itu. Aku masih terdiam.

“He’s here. Isn’t he.” Sasha menganggukkan kepalanya.

“It’s not safe in here anymore.”

Malam itu juga kami pergi meninggalkan kota itu, rumah itu dan pohon natalku…

h1

Kejutan di Pagi Hari

Desember 9, 2009

Pagi ini aku bangun seperti biasa, pada jam yang sama dengan hari-hari lainnya. Aku lama berbaring mencoba mengumpulkan nyawaku sambil mengamati sinar matahari pagi yang lembut menembus tirai kamar. Mata terasa masih berat. Kucoba melihat ke sekeliling,

“Sasha?”
Ia tak mungkin ada di sini jika sinar matahari sudah masuk seperti itu. Sasha pasti sudah ada di tempat lain, yang tak terjangkau matahari.

“Good morning cookie.” Aku menoleh ke arah datangnya suara,

“Sasha!” Aku tak dapat menyembunyikan kegembiraanku. Sasha mendekat dan memberikan kecupan pagi untukku,

“I stay here today.” Ia menarik tanganku. Katanya lagi,

“Wake up! I want to show you something.”

“What? I’m stil sleepy.” Kutarik tanganku dari genggamannya

“No need to hurry.. right?.” aku membenamkan diriku kembalì ke dalam tumpukan selimut.

“Whatever.” Sasha bangkit dan mulai berjalan meninggalkan ruangan.

“Hey, don’t go, I’m just kidding!” Sasha tetap memunggungiku seakan tak mendengarku. Terpaksa aku bangun dan mengejarnya. Aku baru saja akan protes ketika melihat sesuatu di ruang tengah, sebuah pohon Natal berdiri dengan indahnya di tengah ruangan! Aku tak dapat mempercayai penglihatanku. Sebuah pohon dengan tinggi kira-kira satu setengah meter menjulang dihadapanku. Pohon itu berwarna putih, daun-daunnya seluruhnya berwarna putih dengan hiasan berwarna perak dan biru. Lampu-lampu biru kecil berkerlip menghiasi seluruh pohon. Aku takjub melihat keindahan yang ada di hadapanku. Warna putih dan biru adalah warna kesukaanku! Aku menoleh kepada Sasha,

“And you managed to put all these thing?” Sasha menganggukkan kepalanya,

“When?” aku masih penasaraan,

“When you were sleeping.” Sasha nyengir lebar.

“So you put this tree and decorated it while I was sleeping? Ow, that’s why you told me yesterday to sleep earlier… Means you have more time to prepare… You!” Sasha tertawa melihatku merasa tertipu seperti itu.

“Gotcha! Now you know!” Sasha tertawa puas. Ia mengusap rambutku. Katanya,

“This is my present for you.” Ia memelukku erat.

“Do you know why they choose this tree?” Aku menggelengkan kepalaku, Sasha melanjutkan,

“This kind of tree, the fir tree can stay alive in the winter. Not only that, by staying alive, it also provides a habitat for the wildlife.”
Ia melanjutkan,

” It symbolìzes a life that always endures, never perished, an eternal life, like our love.” Sasha memandangku,

“Julie, I want you to have a new memory about Christmas. A memory you will hold in the future. Something you cherish. Forever.”

“Thank you so much!” Aku membenamkan wajahku ke dalam pelukannya.

Aku melihat ke sekelilingku. Ruangan tengah tampak gelap, Sasha menutup ruangan dengan tirai tebal sehingga sinar matahari tak dapat masuk ke dalam. Dengan begitu ia tak perlu takut terkena sinar matahari jika berada di ruangan ini di siang hari. Sejak saat itu aku tak lagi membuka tirai ruangan dan membiarkan Sasha tinggal di rumah selama matahari bersinar.